Minggu, 29 Maret 2015

Pengertian Peserta didik

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur kami panjatkan kehadirat alloh SWT. Karna dengan kerja sama antara kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang kami ambil rujukan dengan ilmu pendidikan islam (IPI) semoga nantinya makalah yang kami papar kan dihadapan audien semua berguna untuk kita semua, khususnya buat pemakalah sendiri.

Sholawat dan salam juga tak henti-hentinya kita kirimkan buat junjungan alam ya’ni rosululloh SAW. Karna yang kita tau beliau sebagai penyelamat bagi kita, sehingga kita dapat melihat indahnya alam ini yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan, sholawat nya yang berlapas:
اَلَّلهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْوَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ



DAFTAR ISI

DALAM JUDUL ………………………………………………..!
DAPTAR ISI………………………...…………………………..!!

AB.I. PENDAHULUAN…………………………….…………..1
a.       Latar belakang…………………………………..………….....2
b.      Rumusan masalah………………………………...………...…3


AB.II. PEMBAHASAN……………………………….…………4
a.       Pengertian peserta didik………………….………….…...…...5
b.      Kebutuhan peserta didik…………………………….….……..6
c.       Dimensi- dimensi peserta didik…………………….…………7
d.      Intelengensi peserta didik…………………………….….........8
e.       Kpribadian peserta didik…………………………….…….…..9
f.       Etika peserta didik………………………………….…….......10


AB.III. PENUTUP…………………………………….……..…11
Kesimpulan………………………………………….………..…12
Kritik dan saran.……………………………………….……..….13







BAB  I
PENDAHULUAN




A.    Latar Belakang



Islam bukanlah sekadar agama yang membangun spiritual sesuatu masyarakat, Islam tidak cukup dengan menjalankan solat lima waktu, puasa, zakat dan Haji. Lebih dari pada itu Islam adalah cara hidup (way of life). Oleh karena itu, makalah ini secara khusus membahas tentang pengajaran atau pengenalan dalam pendidikan islam.



B.     Rumusan masalah.
Dalam makalah yang kami sajikan ini, didalam terdpat beberapa sub yang dapat kita kaji bersama.
ü  Pengertian peserta didik
ü  Kebutuhan peserta didik
ü  Dimensi-dimensi peserta didik
ü  Intelengensi peserta didik
ü  Kepribadian peserta didik
ü  Etika peserta didik


BABII
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PESERTA DIDIK
Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta  sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.
Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu banyak mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan demikina dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mentah (raw material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi suatu produk pendidikan.
Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya. Dalam konteks ini seorang pendidik harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut.
a.       ciri – ciri peserta didik :
kelemahan dan ketak berdayaannya
b.      kriteria peserta didik :
Syamsul nizar mendeskripsikan  enam kriteria peserta didik, yaitu :
ü  peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri
ü  peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan
ü  peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
ü  peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
ü  peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.
 Sehingga agar seorang pendidik mampu membentuk peserta didik yang berkepribadian dan dapat mempertanggungjawabkan sikapnya, maka seorang pendidik harus mampu memahami peserta didik beserta segala
Karakteristiknya. Allah SWT berfirman :
ôMs9$s% $yJßg1y÷nÎ) ÏMt/r'¯»tƒ çnöÉfø«tGó$# ( žcÎ) uŽöyz Ç`tB |Nöyfø«tGó$# Èqs)ø9$# ßûüÏBF{$# ÇËÏÈ
salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Q.S. Al – Qashas 28:26).

B.     KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PESERTA DIDIK
 Pada sub bab sebelumnya tengah disinggung bahwasannya untuk mendapatkan keberhasilan dalam proses pendidikan maka seorang pendidik harus mampu memahami karakteristik seorang peserta didik itu sendiri. Kemudian salah satu dari nya adalah kebutuhan peserta didik.
            Kebutuhan peserta didik adalah sesuatu kebutuhan yang harus didapatkan

oleh peserta didik untuk mendapat kedewasaan ilmu. Menurut buku yang ditulis oleh Ramayulis, ada delapan kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi, yaitu :
1.      Kebutuhan Fisik
Fisik seorang didik selalu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Proses pertumbuhan fisik ini terbagi menjadi tiga tahapan :
ü  peserta didik pada usia 0 – 7 tahun, pada masa ini peserta didik masih mengalami masa kanak-kanak
ü  peserta didik pada usia 7 – 14 tahun, pada usia ini biasanya peserta didik tengah mengalami masa sekolah yang didukung dengan peraihan pendidikan formal
ü  peserta didik pada 14 – 21 tahun, pada masa ini peserta didik mulai mengalami masa pubertas yang akan membawa kepada kedewasaan.

2.      Kebutuhan Sosial
Secara etimologi sosial adalah suatu lingkungan kehidupan. Pada hakekatnya kata sosial selalu dikaitkan dengan lingkungan yang akan dilampaui oleh seorang peserta didik dalam proses pendidikan.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kebutuhan sosial adalah digunakan untuk memberi pengakuan pada seorang peserta didik yang pada hakekatnya adalah seorang individu yang ingin diterima eksistensi atau keberadaannya dalam lingkungan masyarakat sesuai dengan keberadaan dirinya itu sendiri.
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (Q.S. Al-Hujarat:13)
3.      Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status
 Kebutuhan mendapatkan status adalah suatu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mendapatkan tempat dalam suatu lingkungan. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik terutama pada masa pubertas dengan tujuan untuk menumbuhkan sikap kemandirian, identitas serta menumbuhkan rasa kebanggaan diri dalam lingkungan masyarakat.
4.      Kebutuhan Mandiri
Ketika seorang peserta didik telah melewati masa anak dan memasuki masa keremajaan, maka seorang peserta perlu mendapat sikap pendidik yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk membentuk kepribadian berdasarkan pengalaman. Hal ini disebabkan karena ketika peserta telah menjadi seorang remaja, dia akan memiliki ambisi atau cita-cita yang mulai ditampakkan dan terfikir oleh peserta didik, inilah yang akan menuntun peserta didik untuk dapat memilih langkah yang dipilihnya.
5.      Kebutuhan Untuk Berprestasi
Untuk mendapatkan kebutuhan ini maka peserta didik harus mampu mendapatkan kebutuhan mendapatkan status dan kebutuhan mandiri terlebih dahulu. Karena kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kebutuhan berprestasi. Ketika peserta didik telah mendapatkan kedua kebutuhan tersebut, maka secara langsung peserta didik akan mampu mendapatkan rasa kepercayaan diri dan kemandirian, kedua hal ini lah yang akan menuntutnun langkah peserta didik untuk mendapatkan prestasi.
6.      Kebutuhan Ingin Disayangi dan Dicintai
Kebutuhan ini tergolong sangat penting bagi peserta didik, karena kebutuhan ini sangatlah berpengaruh akan pembentukan mental dan prestasi dari seorang peserta didik. Dalam sebuah penelitian membuktikan bahwa sikap kasih sayang dari orang tua akan sangat memberikan mitivasi kepada pesertadidik.untuk mendapatkan prestasi.
7.      Kebutuhan Untuk Curhat
Ketika seorang peserta didik menghadapi masa pubertas, meka seorang peserta didik tersebut tengah mulai mendapatkan problema-probelama keremajaan. Kebutuhan untuk curhat biasanya ditujukan untuk mengurangi beban masalah yang dia hadapi. Pada hakekatnya ketika seorang yang tengah menglami masa pubertas membutuhkan seorang yang dapat diajak berbagi atau curhat.
8.      Kebutuhan Untuk Memiliki Filsafat Hidup
Pada hakekatnya seetiap manusia telah memiliki filsafat walaupun terkadang ia tidak menyadarinya. Begitu juga dengan peserta didik ia memiliki ide, keindahan, pemikiran, kehidupan, tuhan, rasa benar, salah, berani, takut. Perasaan itulah yang dimaksud dengan filsafat hidup yang dimiliki manusia.
Pendidikan agana disamping memperhatikan kebutuhan-kebutuhan biologis dan psikologis ataupun kebutuhan primer maupun skunder, maka penekanannya adalah pemenuhan kebutuhan anak didik terhadap agama karena ajaran agama yang sudah dihayati, diyakini, dan diamalkan oleh anak didik, akan dapat mewarnai seluruh aspek kehidupannya.

C.     DIMENSI – DIMENSI PESERTA DIDIK
Didalam Sub/bagian ini penulis hanya akan membahas  7 dimensi saja. Adapun ketujuh dimensi tersebut ialah : dimensi fisik, dimensi akal, dimensi keberagamaannya, dimensi akhlak, dimensi rohani, dimensi seni, dan dimensi sosial.
1.      Dimensi Fisik (Jasmani)
Fisik manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur biotik dan unsur abaiotik. Manusia sebagai peserta didik memiliki proses penciptaan yang sama dengan makhluk lain seperti hewan. Namun yang membedakan adalah manusia lebih sempurna dari hewan, hal ini dikarenakan manuasia memiliki nafsu yang dibentengi oleh akal sedangkan hewan hanya memiliki nafsu dan insthink bukanya akal.
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. Attin :4).
2.      Dimensi Akal
Ramayulis dalam bukunya ia mengambil pendapat al – Ishfahami yang membagi akal menjadi dua macam yaitu :
ü  Aql Al-Mathhu’ : yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah SWT sebagai fitrah Illahi.
ü  Aql al-masmu : yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia. 
            Akal memiliki fungsi sebagai berikut :
ü  Akal adalah penahan nafsu.
ü  Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi. sesuatu baik yang nampak jelas maupun yang tidak jelas.
ü  Akal pada diri manusia tidak dapat berdiri sendiri, ia membutuhkan bantuan qolb (hati) agar dapat memahai sesuatu yang bersifat ghoib seperti halnya ketuhanan, mu’jizat, wahyu dan mempelajarinya lebih dalam tentang tuhan
3.      Dimensi Keberagaman
 Manusia sejak lahir kedunia telah menerima kodrat. Dalam Ayat Al-qur’an ditegaskan :
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& Mó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al – A’raf : 172).
4.      Dimensi Akhlak
 Kata akhlak dalam pendidikan islam adalah seuatu yang sangat diutamakan. Dalam islam akhlak sangat erat kaitannya dengan pendidikan agama sehingga dikatakan bahwa akhlak tidak dapat lepas dari pendidikan agama.
Akhlak menurut pengertian islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali kalau dari situ muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam islam bersumber pada iman dan taqwa dan mempunyai tujuan langsung yaitu keridhoan dari Allah SWT.
5.      Dimensi Rohani (Kejiwaan)
Tidak jauh berbeda dengan dimensi akhlak, dimensi rohani dalah adalah dimensi yang sangat penting dan harus ada pada peserta didik. Hal ini dikarenakan rohani (kejiwaan) harus dapat mengendalikan keadaan manusia untuk hidup bahagia, sehat, merasa aman dan tenteram.
6.      Dimensi Seni (Keindahan)
Dalam agama islam Allah telah menghadirkan dimensi seni ini didalam Al-Qur’an. Kitab suci Al-qur’an memiliki kandungan nilai seni yang sangat mulia nan indah. Hal ini karena A-lqur’an adalah ekspresi dari Allah SWT untuk memberikan kebijakan dan pengetahuan kepada seluruh semesta Alam. Sehingga kesastraan yang terdapat di dalam Al-Qur’an benar-benar menunjukkan kehadiran Illahi didalam mu’jizat yang bersifat universal ini. Allah SWT berfirman :
öNä3s9ur $ygŠÏù îA$uHsd šúüÏm tbqçt̍è? tûüÏnur tbqãmuŽô£n@ ÇÏÈ
Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan (QS. An-nahl : 6)
Keindahan selalu berkaitan dengan adanya keimanan pada diri manusia. Semakin tinggi iman yang dimiliki oleh manusia maka dia akan makin dapat merasakan keindahan akan segala sesuatu yang di ciptakan oleh tuhannya.
7.      Dimensi Sosial
Dimensi sosial bagi manusia sangat erat kaitannya dengan sebuah golongan, kelompok, maupun lingkungan masyarakat. Lingkungan terkecil dalam dimensi sosial adalah keluarga, yang berperan sebagai sumber utama peserta didik untuk membentuk kedewasaan. Didalam islam dimensi sosial dimaksudkan agar manusia mengetahui bahwa tanggung jawab tidak hanya diperuntukkan pada perbuatan yang bersifat pribadi namun perbuatan yang bersifat umum.
D.    TINGKAT INTELEGENSI PESERTA DIDIK
Secara bahasa Integensi dapat diartikan dengan kecerdasan, pemahaman, kecepatan, kesempurnaan sesuatu atau kemampuan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indoneseia (KBBI) intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuan dan kecerdasannya.
            Berdasarkan pengertian diatas dalam pendidikan islam dikelompokkan
menjadi empat golongan, yaitu :
ü  kecerdasan intelektual
ü  kecerdasan emosional
ü  kecerdasan spiritual
ü  Kecerdasan Qalbiyah.
1.      Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan pengambangan tingkat kemampuan dan kecerdasan otak, logika atau IQ. Ramayulis dalam bukunya menyatakan, kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.
2.       Kecerdasan Emosional
Menurut Daniel Gomelen, kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk memotovasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga akan beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.
Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan emosional, sebagai berikut :
ü  Konsistensi (istiqamah)
ü  Kerendahan hati (tawadhu’)
ü  Berusaha dan berserah diri (tawakkal)
ü  Ketulusan (ikhlas), totalitas (kaffah)
ü  Keseimbangan (tawazun)
ü  Integritas dan penyempurnaan (ihsan)
Didalam islam hal tersebut disebut dengan akhlaq al karimah. Akhlaq Al Karimah ini mampu mengendalikan seseorang dari keinginan-keinginan, yang bersifat negatif, dan sebaliknya mengarahkan seseorang untuk melakukan hal-hal yang posistif.
Solovery menerangkan tentang ciri-ciri kecerdasan emosional sebagai berikut :
ü  respon yang cepat namun ceroboh
ü  mendahulukan perasaan daripada fikiran
ü  realitas simbolik yang seperti anak-anak
ü  masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang
ü  realitas yang ditentukan oleh keadaan.
 Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional yang bekerja secara acak tanpa pemikiran yang logis. Apabila tidak didampingi oleh pemikiran yang bersifat logis (Kecerdasan Intelektual) dikhawatirkan malah akan mendorong peserta didik untuk melakukan hal-hal yang negatif atau melakukan sesuatu yang monoton (tidak berkembang).
Jalaludin Rahmat, dalam bukunya yang berjudul Kecerdasan Emosional prespektif, mengemukakan bahwa untuk mendapatkan kecerdasan emosional yang tinggi harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
Musyarathah, berjanji pada diri sendiri untuk membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk
Muraqobah, memonitor reaksi dan perilaku sehari-hari
Muhasabah, melakukan perhitungan baik dan buruk yang pernah dilakukan
Mu’atabah dan mu’aqabah, mengecam keburukan yang dikerjakan dan menghukum diri sendiri.

3.      Kecerdasan Spiritual
Secara etimologi spritual berarti yang berkehidupan atau sifat hidup. Kecerdasan spiritula pada diri manusia berorientasi pada dua hal, yakni berorientasi kepada hal yang bersifat duniawi dan agama.
Ketika seseorang mengorirntasikan kecerdasan spiritual kedalam sesuatuyang bersifat duniawai, maka yang hadir dalam dirinya adalah bagaimana ia dapat memaknai hidup dan mengelola nilai-nilai kehidupan. Bukan untuk menentukan atau memilih keyakinan dan kepercayaan akan suatu agama.
Disisi keagamaan, Ari Ginanjar menyatakan bahwa inti dari kecerdasan spiritual adalah pemahaman tentang kehadiran manusia itu sendiri yang muaranya menjadi ma’rifat kepada Allah SWT. Ketika manusia mendapatkan ma’rifat tersebut, maka manusia secara langsung akan dapat mengenali dirinya sendiri sekaligus mengenal tuhannya. Dalam prespeksi islam hal ini merupakan tingkat kecerdasan yang paling tinggi.
         

E.      ETIKA PESERTA DIDIK
Etika peserta didik adalah seuatu yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan. Dalam etika peserta didik, peserta didik memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan oleh peserta didik. Dalam buku yang ditulis oleh Rama yulis, menurut Al-Ghozali ada sebelas kewajiban peserta didik, yaitu :
Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqoruh kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Ad-dzariat :56)
Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya.
Menjaga pikiran dan pertantangan yang timbul dari berbagai aliran
Mempelajari ilmu – ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrowi maupun untuk duniawi.
Belajar dengan bertahap dengan cara memulai pelajaran yang mudah menuju pelajaran yang sukar.
Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian hari beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
 Namun etika peserta didik tersebut perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu, yaitu :
Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.











BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tentang peserta didik dalam pendidikan islam dalam bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :
Peserta didik adalah individu yang mengalami perkembangan dan perubahan, sehingga ia harus mendapatkan bimbingan dan arahan untuk membentuk sikap moral dan kepribadian.
Kebutuhan peserta didik yang berupa kebutuhan fisik, sosial, mendapatkan status, mandiri, berprestasi, ingin disayangi dan dicintai, curhat, dan mendapatkan filsafat hidup harus dipenuhi oleh pendidik untuk menunjang perkembangan dan pembentukan sikap moral peserta didik sebagai insan kamil.
Peserta didik memiliki beberapa dimensi penting yang mempengaruhi akan perkembangan peserta didik, dimensi ini harus diperhatikan secara baik oleh pendidik dalam rangka mencetak peserta didik yang berakhlak mulia dan dapat disebut sebagai insan kamil.
B.     KRITIK DAN SARARAN
Dari pembahasan yang kami paparkan mungkin ada terdapat kesalahan dan kehilapan penulis, untuk itu penulis mohon ma’af yang sebesar-besarnya, dan selanjutnya mungkin ada diantaraaudien sekalaian yang menyangga atau kritikan yang sipatnya membangun dari pembahasan makalah ini sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Abu dkk. Ilmu Pendidikan Cetakan ke II. PT Rineka Cipta. Jakarta. 2006.
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia. Jakarta. 2006. 
Supriono,Widodo. Filsafat Manusia dalam Islam. Pustaka Belajar. Yogyakarta, 1996.



Senin, 23 Maret 2015

Aurat dan Jilbab

Rasulullah bersabda ?Ada dua golongan penghuni neraka yg aku belum pernah melihatnya, Laki-laki yg tangan mereka menggenggam cambuk yg mirip ekor sapi utk memukuli orang lain dan wanita-wanita yg berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya.
 AURAT WANITA DAN HUKUM MENUTUPNYA
Aurat wanita yg tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain adl seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang menjadi dasar hal ini adalah
1.      Al-Qur’an surat Annur

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yg beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yg biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur nya ke dadanya”

 Keterangan Ayat ini menegaskan empat hal

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yg diharamkan oleh Allah.
b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yg haram.
c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yg biasa tampak.
d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.

2.      Hai Asma seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid maka tak ada yg layak terlihat kecuali ini sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan.

 Keterangan Hadis ini menunjukkan dua hal

a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. menutup aurat adalah wajib.










Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yg menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini

1.      Dari Al-Qur’an

a.       Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj (berkumpulnya laki-laki dan perempuan seperti orang jahiliah)  sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu.

b.      Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin,Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Keterangan Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yg menutupi seluruh tubuh bukan berarti jilbab dalam bahasa kita . Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban tiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

c.       Hadis Rasulullah bahwasanya beliau bersabda

“Ada dua golongan penghuni neraka yg aku belum pernah melihatnya Laki-laki yg tangan mereka menggenggam cambuk yg mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yg berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian”

Keterangan Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yg membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan buka-bukaan adalah dosa besar.
Sebab perbuatan-perbuatan yg dilaknat oleh Allah atau Rasul-Nya dan yg diancam dgn sangsi duniawi atau azab neraka adalah dosa besar.

SYARAT PAKAIAN PENUTUP AURAT WANITA
Pada dasarnya seluruh bahan model dan bentuk pakaian boleh dipakai asalkan memenuhi syarat-syarat berikut
1.      Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
2. Tidak tipis dan tidak transparan
3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh
4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.

5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok.Sebab pakaian yg menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka maka membunyikan perhiasan yg dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian. .

Bapak... Ibu... Maafkan Anakmu

Bapak... Ibu... Maafkan Anakmu 




Sumber dari http://www.jkmhal.com/main.php?sec==content&cat==8&id= 15

  Apakah Anda tahu siapa orang nomor dua yang kita patut bersyukur kepadanya setelah kepada Allah SWT.? sehingga kita harus bersyukur dan berbuat baik kepadanya?. Dan jawabannya adalah orang tua kita sendiri yaitu Ibu bapak kita yang setiap saat menyayangi kita. Membantu kita ketika kita sedang kesulitan, mendoakan kita, supaya kita berhasil dalam sekolah, kerja, usaha, berumah tangga dan lain sebagainya. Apalagi kalau pikiran kita, kita layangkan pada masa kita masih dalam kandungan Ibu kita. Bagaimana Ibu kita berjuang dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah di tambah ketika kita mau lahir, antara hidup dan mati Ibu kita berjuang untuk mengeluarkan kita yang berada dalam kandungan. Dan coba kita pikirkan, bagaimana sayangnya orang tua kita kepada kita ketika kita masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan sampai kita menjadi orang tua dari anak-anak kita juga, orang tua kita masih saja menyayangi kita.

Coba kita pikirkan lagi, bagaimana kita dengan enaknya memakai segala pasilitas yang komplit karena orang tua kita kaya raya. Mau apa saja kita tinggal ambil. Dan bagaimana dengan kekayaan yang kita miliki, apakah kedua orang tua kita juga bebas memilikinya seperti yang kita lakukan terhadap kekayaan yang dimiliki kedua orang tua kita dahulu?. kayaknya, tidak ya...

Maka pantas Allah SWT. memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik dan bersyukur kepada kedua orang tua kita yaitu ibu bapak kita, sebagaimana firman-Nya yang artinya,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman(31): 14)

Oleh karena itu kita wajib berbuat baik kepada kedua orang tua kita dan bersyukur padanya, atas apa yang kita dapatkan dari orang tua kita.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra(17): 24) Dan jangan sekali-kali kita durhaka kepada kedua orang tua kita, sampai-samapai kita membantah perintah ibu bapak kita saja, Allah SWT. akan murka kepada kita, walaupun dengan mengucapkan  ah sekalipun.

 ... dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra(17): 23)

 Ridha Allah tergantung ridhanya kedua orang ibu bapakmu, dan murka Allah juga tergantung dari murkanya kedua orang ibu bapakmu.

Malahan Rasulullah SAW. sendiri mengatakan bahwa diantara dosa besar adalah seseorang memaki-maki orang tuanya sendiri, sebagaimana sabdanya di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, yang artinya,

 Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra., dia berkata: Rasulullah SAW. pernah bersabda, ‘Di antara dosa besar adalah apabila seseorang memaki-maki orang tuanya sendiri.’ Ditanyakan oleh seseorang, ‘Ya Rasulullah! bagaimana seseorang memaki-maki orang tuanya sendiri?’ Rasulullah SAW. bersabda, ‘Seseorang memaki-maki ayah orang lain, kemudian orang lain tersebut membalas dengan memaki-maki ayah orang itu, begitu pula seseorang memaki-maki ibu orang lain kemudian orang lain tersebut memaki-maki ibu orang itu.’ (HR. Al-Bukhari)

Dan di riwayat lain Rasulullah menerangkan mengenai siapa orang yang paling berhak di hormati, sebagaimana hadits yang di riwayatkan Al-Bukhari yang artinya,

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dia berkata: Seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW. kemudian bertanya, ‘Ya Rasulullah! siapa orang yang harus saya muliakan?’ Rasulullah SAW. menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Setelah ibu saya, siapa?’ Rasulullah SAW. menjawab, ‘Ibumu.’ Tanya laki-laki itu selanjutnya lagi, ‘Berikutnya siapa?’ Rasulullah SAW. menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Berikutnya siapa?’ Rasulullah SAW. menjawab, ‘Ayahmu.’ (HR. Al-Bukhari)

Sahabat-sahabat sekalian, mudah-mudahan renungan ini membuat kita berpikir bahwa kedua orang tua kita adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Dengan hormat kepadanya dan memuliakannya adalah suatu kebaikan bagi kita.

 Rabbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.

Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

Wallahu a lam