MAKALAH
FILSAFAT MANUSIA DAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Diajukan dan
dipresentasikan untuk memenuhi tugas terstruktur
pada mata kuliah Filsafat
Pendidikan
DOSEN PENGAMPU :
H.Ridwansya,M.Hum
![]() |
Di susun oleh:kelompok 5 (lima)
1.
Tuhairul : T.PAI.I.2011.014
2.
Ilma zefvitcha : T.PAI.I.2011.027
3.
Musriati : T.PAI.I.2011.033
PROGRAM
STUDI TARBIYAH
SEKOLAH TINGNGI AGAMA ISLAM
STAI
SMQ BANGKO 2012-2013
KATA PENGANTAR
Bismillah hirrahmaa nirrahim
Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan seru
sekelian alam.Shalawat dan salam semoga dilimpah kepada Nabi Muhammad S A
W,Rasullah terakhir yang diutuskan dengan membawa syari’ah yang mudah,penuh
rahmat,dan membawa keselamatan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam
hal ini kmi akan memerangkan tentang masalah FILSAFAT MAHUSIA DAN FILSAFAT PENDIDIKAN,yang
berkaitan dengan keterangan kitab uumul hadist abad ketiga.untuk memenuhi tugas
terstruktur mata pelajaran FILSAFAT
PENDIDIKAN,mudah-mudahan kami bisa menyelesaikannya dengan
baik sesuai dengan keinginan kita bersama amin ya robbal a’lamin.dan mungkin makalah kami tidak
sempurna dan tidak lengkap karna kami adlah seorang manusia yang takluput dari
dosa dan kesalahan.
Dan kami berharap mudahan makalah ini
bisa menjadi pelajatan ataupun pandangan dalam kehidupan kita aminiiin.kami
sangat berterima kasih kepada otnum-otnum yang membantu dsalam menyelesaikan
makalah kami ini, makalah kami bisa menjadi pelajaran dan pengetahuan yang bisa
dipahami di mengerti kami ucapkan syukur alhamdulillah atas segala karuniayang
telah diberikan allah subhanahuwata’ala
DAFDTAR ISI
Halaman sampul…………………………………………………………………….
Kata pengantar………………………………………………………………………
Daftar isi………………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN……………………………………………………………
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Filsafat……………………………………………………………
2. Hakekat Manusia dalam
Pandangan ………………………………………….
3. Filsafat Masalah Rohani dan
Jasmani ………………………………………...
4. Sudut Pandang Antropologi
dan Metafisika…………………………………..
5. Pandangan Freud tentang
Struktur Jiwa (Kepribadian)………………………..
6. Pandangan Ilmu Pengetahuan
tentang Asal-Mula dan Tujuan Hidup Manusia..
7. Hubungan Antara Filsafat,
Pendidikan dan Manusia…………………………..
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan……………………………………………………………………..
2. Saran……………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan
adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam,
dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur
dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk
kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan
tersebut dalam hubungannya dengan Allah Yang Maha Pencipta sebagai tujuan
akhir.
Dalam
tujuan Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan ditujukan untuk
menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU
No. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Garis-garis Besar
Haluan Negara (GBHN) 1993, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh,
cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung
jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta
tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada
sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.
Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1990. Selain pendidikan dipusatkan untuk membina kepribadian manusia, pendidikan juga diperuntukkan guna pembinaan masyarakat.
Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1990. Selain pendidikan dipusatkan untuk membina kepribadian manusia, pendidikan juga diperuntukkan guna pembinaan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Filsafat
Sebelum lebih jauh membahas tentang hakekat
manusia dalam pandangan filsafat, izinkan kami sedikit memaparkan tentang
pengertian filsafat itu sendiri terlebih dahulu. Secara etimologis,
filsafat berakar dari bahasa Yunani yaitu phillein yang
berarti cinta, dan shopia yang berarti kebijaksanaan. Jadi filsafat
adalah “cinta kebijaksanaan”. Kemudian dari pendekatan etimologis tersebut,
dapat disimpulkan bahwa filsafat berarti pengetahuan mengenai pengetahuan, akar
dari pengetahuan atau pengetahuan yang terdalam.
Secara terminologis, banyak sekali pendapat-pendapat yang berkenaan
dengan pengertian filsafat. Tidak ada pengertian yang secara pasti,
tetapi berikut beberapa pengertian yang penulis dapat dari beberapa sumber.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang amat luas (komprehensif) yang
berusaha untuk memahami persoalan-persoalan yang timbul didalam keseluruhan
ruang lingkup pengalaman manusia.
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang
hakekat kebenar
an sesuatu.
Filsafat adalah daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami,
mendalami dan menyelami secara radikal, dan integral serta sistematik mengenai
ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana hakekatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana
sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahua tersebut.
2.Hakekat Manusia dalam Pandangan Filsafat
Hakikat adalah sesuatu yang mendasar, suatu esensi, yang substansial,
yang hakiki yang penting, yang diutamakan. Dengan kata lain, HAKIKAT adalah
SESUATU yang mesti ada pada SESUATU yang jika SESUATU itu tidak ada maka
SESUATU itu pun tidak wujud/ada. Jadi, HAKIKAT manusia adalah SESUATU yang pasti
ADA pada manusia. Upaya pemahaman hakekat manusia sudah dilakukan sejak dahulu.
Namun, hingga saat ini belum mendapat pernyataan
yang benar-benar tepat dan pas, dikarenakan manusia itu sendiri
yang memang unik, antara manusia satu dengan manusia lain berbeda-beda. Bahkan
orang kembar identik sekalipun, mereka pasti memiliki perbedaaan. Mulai dari
fisik, ideologi, pemahaman, kepentingan dll. Semua itu menyebabkan suatu
pernyataan belum tentu pas untuk di setujui oleh sebagian orang.
Para ahli pikir dan ahli filsafat memberikan sbuten kepada manusia sesuai
dengan kemampuan yang dapat dilakukan manusia di bumi ini;
a. Manusia adalah Homo
Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi,
b.
Manusia adalah Animal Rational, artinya
binatang yang berpikir,
c.
Manusia adalah Homo Laquen, artinya
makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan pikiran manusia dan
perasaan dalam kata-kata yang tersusun,
d.
Manusia adalah Homo Faber, artinya
makhluk yang terampil. Dia pandai membuat perkakas atau disebut juga Toolmaking
Animalyaitu binatang yang pandai membuat alat,
e.
Manusia adalah Zoon Politicon, yaitu
makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi
diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
f.
Manusia adalah Homo Economicus, artinya
makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis,
g. Manusia adalah Homo
Religious, yaitu makhluk yang beragama. Dr. M. J. Langeveld seorang
tokoh pendidikan bangsa Belanda, memandang manusia sebagai Animal
Educadum dan Animal Educable, yaitu manusia adalah
makhluk yang harus dididik dan dapat dididik. Oleh karena itu, unsur rohaniah
merupakan syarat mutlak terlaksananya program-program pendidikan. Ilmu yang
mempelajari tentang hakekat manusia disebut Antropologi Filsafat.
3.Masalah Rohani dan Jasmani
Setidaknya terdapat empat aliran pemikiran yang berkaitan tentang masalah
rohani dan jasmani (sudut pandang unsur pembentuk manusia) yaitu: Aliran serba
zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, dan aliran aksistensialisme.
·
Aliran Serba zat (Faham Materialisme)
Aliran
serba zat ini mengatakan yang sungguh-sunguh ada itu adalah zat atau materi,
alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam, maka dari
itu manusia adalah zat atau materi. Manusia ialah apa yang nampak sebagai
wujudnya, terdiri atas zat (darah, daging, tulang).
·
Aliran Serba Ruh (Idealisme)
Dalam
buku lain, aliran ini diberi nama Aliran Idealisme. Aliran ini
berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia ini adalah ruh, juga
hakekat manusia adalah ruh. Ruh disini bisa diartikan juga sebagai jiwa, mental, juga rasio/akal.
Karena itu, jasmani atau tubuh (materi, zat) merupakan alat jiwa untuk
melaksanakan tujuan, keinginan dan dorongan jiwa (rohani, spirit, ratio)
manusia.
·
Aliran Dualisme
Aliran
ini menganggap bahwa manusia itu pada hakekatnya terdiri dari dua substansi,
yaitu jasmani dan rohani. Aliran ini melihat realita semesta sebagai
sintesa kedua kategori animate dan inanimate, makhluk hidup dan benda mati.
Demikian pula manusia merupakan kesatuan rohani dan jasmani, jiwa dan raga.
Misalnya
ada persoalan: dimana letaknya mind (jiwa, rasio) dalam pribadi manusia.
Mungkin jawaban umum akan menyatakan bahwa ratio itu terletak pada otak. Akan
tetapi akan timbul problem, bagaiman mungkin suatu immaterial entity
(sesuatu yang non-meterial) yang tiada membutuhkan ruang, dapat ditempatkan
pada suatu materi (tubuh jasmani) yang berada pada ruang wadah tertentu.
·
Aliran Eksistensialisme
Aliran filsafat modern berpikir tentang hakekat manusia merupakan
eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi intinya hakikat
manusia itu yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Disini manusia
dipandang dari serba zat, serba ruh atau dualisme dari kedua aliran itu, tetapi
memandangnya dari segi eksistensi manusia itu sendiri di dunia.
4.Sudut Pandang Antropologi dan Metafisika
Dari segi antropologi terdapat tiga sudut pandang hakekat manusia, yaitu
manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk susila. Berikut
penjelasan dari ketiganya:
·
Manusia Sebagai Makhluk Individu (Individual Being)
Dalam
bahasa filsafat dinyatakan self-existence adalah sumber pengertian manusia akan
segala sesuatu. Self-existence ini mencakup pengertian yang amat luas, terutama
meliputi: kesadaran adanya diri diantara semua relita, self-respect,
self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan
pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi
dasar bagi self-realisasi. Manusia sabagai individu memiliki hak asasi sebagai
kodrat alami atau sebagi anugrah Tuhan kepadanya. Hak asasi manusia sebagai
pribadi itu terutama hak hidup, hak kemerdekaan dan hak milik.
·
Manusia Sebagai Makhluk Sosial (Sosial Being)
Telah
kita ketahui bersama bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian, manusia
membutuhkan manusia lain agar bisa tetap exsis dalam menjalani kehidupan ini,
itu sebabnya manusia juga dikenal dengan istilah makhluk sosial. Keberadaanya
tergantung oleh manusia lain.
Esensi
manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang status
dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana tanggung jawab dan
kewajibannya di dalam kebersamaan itu. Adanya kesadaran interdependensi dan
saling membutuhkan serta dorongan-dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas
sosialitas itu. Kehidupan individu di dalam antar hubungan sosial memang tidak
usah kehilangan identitasnya. Sebab, kehidupan sosial adalah realita sama
rielnya dengan kehidupan individu itu sendiri. dan metode yang tepat, juga
dengan pemberian motivasi tentang kebersamaan.
·
Manusia Sebagai Makhluk Susila (Moral Being)
Asas
pandangan bahwa manusia sebagai makhluk susila bersumber pada kepercayaan bahwa
budi nurani manusia secara apriori adalah sadar nilai dan pengabdi norma-norma.
Kesadaran susila (sense of morality) tak dapat dipisahkan dengan realitas
sosial, sebab, justru adanya nilai-nilai, efektivitas nilai-nilai, berfungsinya
nilai-nilai hanyalah di dalam kehidupan sosial. Artinya, kesusilaan atau
moralitas adalah fungsi sosial. Asas kesadaran nilai, asas moralitas adalah
dasar fundamental yanng membedakan manusia dari pada hidup makhluk-makhluk
alamiah yang lain. Rasio dan budi nurani menjadi dasar adanya kesadaran moral
itu.
Ketiga esensi diatas merupakan satu kesatuan yang tidak terlepaskan dari
diri manusia, tinggal ia sadar atau tidak. Beberapa individu mempunyai
kecenderungan terhadap salah satu esensi itu. Ada yang cenderung esensi pertama
yang lebih menonjol, ada yang kedua dan ada yang ketiga. Semua tergantung
pemahaman dan pendidikan yang dialami oleh si individu tersebut. Fungsi
pendidikan adalah mengembangkan ketiganya secara seimbang. Agar manusia dapat
menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi yang sedang dialami. Sesuatu yang
berlebihan atau malah kurang itu tidak baik, jadi yang terbaik itu adalah
seimbang.
Metafika adalah ilmu yang
mencoba menjelaskan sesuatu yang dikatakan gaib dengan cara nalar dan rasional
keilmuan. Pada manusia metafika berbicara tentang ruh/jiwa manusia. Metafisika: filsafat tentang
hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden, di luar
jangkauan pengalaman manusia.
5.Pandangan Freud tentang Struktur Jiwa (Kepribadian)
Menurut Freud (ahli ilmu jiwa), struktur jiwa (kepribadian)terbentuk oleh
tiga tingkatan atau lapisan, yaitu bagian dasar (das Es), bagian tengah (das
Ich) dan bagian atas (das Uber ich).
·
Bagian Dasar atau das Es (the Id)
Bagian
ini merupakan bagian paling dasar yaitu berkenaan dengan hasrat-hasrat atau
sumber nafsu kehidupan. Semua tuntutan das Es semata-mata demi kepuasan, tanpa
memperhatikan nilai baik-buruk. das Es ini merupakan prototype dari
sifat individualistis manusia, egoistis, a-sosial bahkan a-moral. Dan ketika
manusia semata-mata mengikuti dorongan das Es yang demikian tadi, maka
sesungguhnya manusia tidak ada bedanya dengan makhluk alamiah lain.
·
Bagian Tengah atau das Ich (aku)
Bagian
ini terletak ditengah antara das Es dan das Uber Ich. Menjadi penengah antara
kepentingan das Es dan tujuan-tujuan das Uber Ich. Das Ich ini bersifat
objektif dan realistis, sehingga pribadi seseorang dapat berjalan dengan
seimbang dan harmonis. Sesuai letaknya, das Ich ini lebih sadar norma dibanding
das Es. Kesadaran das Ich yang bersifat ke-aku-an ini lebih bersifat social,
sehingga das Ich dapat disamakan sebagai aspek social kepribadian manusia.
·
Bagian Atas atau das Uber Ich (superego)
Bagian
jiwa yang paling tinggi, sifatnya paling sadar norma, paling luhur. Bagian ini
yang paling lazim disamakan dengan budi nurani. Setiap motif, cita-cita dan
tindakan das Uber Ich selalu didasarkan pada asas-asas normative. Superego ini
selalu menjunjung tinggi nilai-nilai, baik nilai etika maupun nilai religious.
Dengan demikian, superego adalah bagian jiwa yang palling sadar terhadap makna
kebudayaan, membudaya dalam arti terutama sadar nilai moral, watak superego
ialah susila.
6.Pandangan Ilmu Pengetahuan tentang Asal-Mula dan Tujuan Hidup Manusia.
Segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini pasti mempunyai asal-usul dan
tujuan keberadaanya, begitu juga manusia. Asala mula dan tujuan hidup manusia
merupakan merupakan substansi yanng sulit dijelaskan. Karena akal manusia
sangat terbatas untuk mencapai pada substansi tersebut.
Pikiran manusia tidak pernah mampu menjelaskan secara terperinci tentang
substansi asal-mula tersebut. Mekipun demikian, pikiran manusia dapat
dipastikan mampu secara logis menyimpilkan dan menilai bahwa hakekat asal mula
itu hanya ada satu, bersifat universal, dan berada di dunia metafisis, karena
itu bersifat absolut dan tidak mengalami perubahan serta sebagai sumber dari
segala sumber yang ada.
Jadi, jika demikian adanya maka dalam islam setidaknya manusia mempunyai
beberapa tujuan. Tujuan manusia hidup manusia paling sedikit ada empat macam;
beribadah, menjadi khalifah Allah di muka bumi (yang baik dan sukses tentunya),
memperoleh kesuksesan (kebaikan, kebahagiaan dan keberuntungan) di dunia dan di
akhirat, dan mendapat ridha Allah.
7.Hubungan Antara Filsafat, Pendidikan dan Manusia.
Dari pemaparan diatas, ternyata menusia benar-benar merupakan makhluk
yang unik. Manusia memiliki berbagai dimensi dasar, baik secara pribadi, jiwa,
kelompok, dan lain-lain. Semua itu bercampur aduk menjadi potensi dasar atau
bawaan manusia, sehingga disadari atau tidak, manusia telah mengembangkan
potensi tersebut, baik secara maximal atau tidak, dengan baik atau
buruk. Semuanyatergantung manusia itu sendiri dan lingkungan yang
mempengaruhinya.
Kaitanya dengan hal tersebut, dengan akal manusia yang bisa
dikatakan jenius, manusia dapat menemukan jalan untuk mengembangkan
potensi-potensi mereka dengan baik. Yaitu dengan pendidikan. Manusia
mulai sadar akan arti penting pendidikan bagi kehidupan mereka.
Pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis dan
berkelanjutan untuk mengembangkan potensi-potensi bawaan manusia, memberi
sifat dan kecakapan, sesuai dengan tujuan pendidikan.
Pendidikan adalah bagian dari suatu proses yang diharapkan untuk mencapai
suatu tujuan. Bahwa manusia
itu sangat membutuhkan pendidikan. Karena melalui pendidikan manusia dapat
mempunyai kemampuan-kemampuan mengatur dan mengontrol serta menentukan dirinya sendiri. Melalui pendidikan pula
perkembangan kepribadian manusia dapat diarahkan kepada yang lebih baik. Dan
melalui pendidikan kemampuan tingkah laku manusia dapat didekati dan dianalisis
secara murni.
Manusia merupakan subyek pendidikan, tetapi juga sekaligus menjadi objek
pendidikan itu sendiri. Pedagogik tanpa ilmu jiwa, sama dengan praktek tanpa
teori. Pendidikan tanpa mengerti manusia, berarti membina sesuatu tanpa
mengerti untuk apa, bagaimana, dan mengapa manusia dididik. Tanpa mengerti atas
manusia, baik sifat-sifat individualitasnya yang unik, maupun potensi-potensi
yang justru akan dibina, pendidikan akan salah arah. Bahkan tanpa pengertian
yang baik, pendidikan akan memperkosa kodrat manusia.
Harga diri, kepercayaan pada diri sendiri,rasa tanggung jawab, dan
sebagainya juga akan tumbuh dalam kepribadian manusia melalui proses
pendidikan.
Jadi, hubungan antara
filsafat, pendidikan dan manusia secara singkat adalah sebagai berikut;
filsafat digunakan untuk mencari hakekat manusia, sehingga diketahui apa saja
yang ada dalam diri manusia. Hasil kajian dalam filsafat tersebut oleh
pendidikan dikembangkan dan dijadikannya (potensi) nyata berdasarkan esensi
keberadaan manusia. Sehingga dihasilkan manusia yang sejati, yang utuh
sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Sebelum lebih jauh membahas tentang hakekat manusia dalam
pandangan filsafat, izinkan kami sedikit memaparkan tentang pengertian
filsafat itu sendiri terlebih dahulu. Secara etimologis, filsafat
berakar dari bahasa Yunani yaitu phillein yang berarti
cinta, dan shopia yang berarti kebijaksanaan. Jadi filsafat adalah
“cinta kebijaksanaan”.
Fisafat tidak ada pengertian yang
secara pasti, tetapi berikut beberapa pengertian yang penulis dapat dari
beberapa sumber.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang amat luas (komprehensif) yang
berusaha untuk memahami persoalan-persoalan yang timbul didalam keseluruhan
ruang lingkup pengalaman manusia.
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang
hakekat kebenar
an sesuatu.
Filsafat adalah daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami,
mendalami dan menyelami secara radikal, dan integral serta sistematik mengenai
ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana hakekatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana
sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahua tersebut.
Hakikat manusia adalah sesuatu yang mendasar, suatu esensi, yang
substansial, yang hakiki yang penting, yang diutamakan. Dengan kata lain, HAKIKAT adalah
SESUATU yang mesti ada pada SESUATU yang jika SESUATU itu tidak ada maka
SESUATU itu pun tidak wujud/ada. Jadi, HAKIKAT manusia adalah SESUATU yang
pasti ADA pada manusia. Upaya pemahaman hakekat manusia sudah dilakukan sejak
dahulu. Namun, hingga saat ini belum mendapat pernyataan
yang benar-benar tepat dan pas, dikarenakan manusia itu sendiri
yang memang unik, antara manusia satu dengan manusia lain berbeda-beda.
Rohani dan Jasmani terdapat empat aliran pemikiran yang berkaitan tentang masalah rohani dan
jasmani (sudut pandang unsur pembentuk manusia) yaitu: Aliran serba zat, aliran
serba ruh, aliran dualisme, dan aliran aksistensialisme.
·
Aliran Serba zat (Faham Materialisme)
·
Aliran Serba Ruh (Idealisme)
·
Aliran Dualisme
·
Aliran Eksistensialisme
Sudut Pandang Antropologi dan Metafisika
Dari segi antropologi
terdapat tiga sudut pandang hakekat manusia, yaitu manusia sebagai makhluk
individu, makhluk sosial dan makhluk susila. Manusia Sebagai Makhluk
Individu (Individual Being)
·
Manusia Sebagai Makhluk Sosial (Sosial Being)
·
Manusia Sebagai Makhluk Susila (Moral Being)
Pandangan Freud tentang Struktur Jiwa (Kepribadian)
Menurut Freud (ahli ilmu
jiwa), struktur jiwa (kepribadian)terbentuk oleh tiga tingkatan atau lapisan,
yaitu bagian dasar (das Es), bagian tengah (das Ich) dan bagian atas (das Uber
ich).
·
Bagian Dasar atau das Es (the Id)
·
Bagian Tengah atau das Ich (aku)
·
Bagian Atas atau das Uber Ich (superego)
Pandangan Ilmu Pengetahuan tentang Asal-Mula dan Tujuan Hidup Manusia.
Segala sesuatu yang ada
dalam kehidupan ini pasti mempunyai asal-usul dan tujuan keberadaanya, begitu
juga manusia.
Karena akal manusia sangat
terbatas untuk mencapai pada substansi tersebut.
Hubungan Antara Filsafat, Pendidikan dan Manusia.
Dari pemaparan diatas,
ternyata menusia benar-benar merupakan makhluk yang unik. Manusia memiliki
berbagai dimensi dasar, baik secara pribadi, jiwa, kelompok, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Suriasumantri, S. Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,
Jakarta, Pustaka Sinar Harapan
Purwanto, Ngalim. M. 2003. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung,
PT. Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar