MAKALAH
ILMU PENDIDIKAN
“BATAS-BATAS KEMUNGKINAN PENDIDIKAN”
Di Susun
O
L
E
H
SAMSUL ARIF
NIM:T.PAI.I.2012.081
PADILATUL HUSNA
NIM:T.PAI.I.2012.042
SITI JAMILAH
NIM:T.PAI.I.2012.042
Lokal: VA
Jurusan:tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH MAULANA QORI BANGKO
TAHUN AKADEMIK 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
“Batas-Batas Kemungkinan Pendidikan”
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amiiiin!......
Bangko,09 Oktober 2014
Penulis
Samsul Arif
FadilatulHusna
Siti Jamilah
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………….
|
!
|
||
DAFTAR ISI………………………………………………………….
|
!!
|
||
BAB I
|
PENDAHULUAN…………………………………………......
|
1
|
|
A. Latar Belakang......................................................................
B. Rumusan masalah.................................................................
|
2
3
|
||
BAB II
|
PEMBAHASAN………………………………………………
|
4
|
|
A. Batasan Pendidikan..................................................
B. Kemungkinan dan Keharusan Pendidikan...............
C. Aliran-Aliran Dalam Pendidikan..............................
|
5
6
7S
|
||
BAB III
|
PENUTUP……………………………………………………..
|
9
|
|
A.Kesimpulan………………………………………………….
B.Kritik
dan saran……………………………………………...
|
10
10
|
||
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………….
|
11
|
||
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia hidup berbeda
dengan hewan, karena manusia mampu secara sempurna menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya, dan senantiasa berupaya menciptakan dunia kehidupan dan
mengatasi realitasnya sendiri. Manusia dalam hidupnya mempunyai peran sejarah
dan menciptakan sejarah baru, dengan kata lain “manusia di samping makhluk
sejarah, juga dikuasai sejarah, ia tidak hanya berada di dalam dunianya
sendiri, tetapi hidup bersama dan berdialog dengan kehidupan” ,karena memang
manusia memahami wawasan kesejarahan sebagai wujud kemampuannya belajar dari
pengalaman. Sementara hewan dengan hanya mengandalkan instink, maka hidupnya
lebih banyak tergantung dengan alam, berorientasi pada kekinian, tidak punya
kemampuan mereka masa depan. Seseorang disekolahkan oleh orang tuanya tentu agar menjadi seseorang yang
cerdas dan berperilaku baik. Itu adalah tujuan diadakannya pendidikan di negara
indonesia, yaitu Taqwa, Cerdas dan Terampil.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan Latar belakang diatas pemakalah mengambil
rumusan masalah sebagai berikut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Batasan
Pendidikan
Dalam pelaksanaan sebuah pendidikan, ada
hal-hal yang membatasi. Batas-batas Pendidikan dapat diartikan sebagai
ketidakmampuan atau ketidakberdayaan pendidikan dalam melakukan tugas-tugas
pendidikan. Batas-batas yang mempengaruhi pendidikan tersebut adalah sbb:
1. Pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang
bertanggung jawab membimbing seorang anak untuk mencapai kedewasaanya. Yang
dimaksud pendidik disini adalah orang tua dan guru. Keduanya memiliki peran
yang sama penting dalam membantu proses pencapaian kedewasaan anak. Orang tua
tentu saja memegang peran utama dalam proses ini, karena orang tua merupakan
tempat pertama dan utama bagi seorang anak untuk bertinteraksi dengan
pendidikan. Ketika anak berada di sekolah, orang tua memiliki keterbatasan
dalam melakukan pendidikan terhadap anak. Untuk itulah guru melakukan peran
pengganti sebagai orang tua yang akan melaksanakan pendidikan bagi anak, di
sekolah.
2. Aspek pribadi anak didik
Anak didik adalah sosok manusia/individu.
Menurut Abu Ahmadi “Individu adalah orang yang tidak tergantung pada orang
lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan
tidak dapat dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri”.
Kondisi inilah yang membatasi sebuah pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu
pendidikan, sangat tergantung pada seberapa jauh anak didik mampu menerima
pendidikan yang diberikan. Anak didik harus diakui keberadaannya. Mereka tidak
bisa begitu saja diperintah untuk mengikuti keinginan kita. Kita harus
dapat memasuki dunia mereka, sehingga kita dapat mengetahui apa yang mereka
inginkan dan mereka sukai. Dengan demikian proses pendidikan akan bisa
berlangsung dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
3. Alat pendidikan
Alat pendidikan merupakan suatu perbuatan
atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan. Alat pendidikan digunakan untuk mendidik anak secara pedagogis. Misalnya
jika seorang ibu membersihkan dan merapikan rumah setiap hari dalam rangka
memberikan kenyamanan bagi keluarganya, maka ia telah menyediakan lingkungan
pendidikan (keluarga). Jika ibu ini menggunakan kegiatan membersihkan rumah ini
untuk menasehati anaknya agar menjaga kebersihan karena merupakan bagian dari
keimanan, maka memberikan nasehat merupakan alat pendidikan, dan kondisi rumah
yang bersih merupakan alat bantu pendidikan. Macam-macam alat pendidikan jika
ditinjau dari wujudnya dapat berupa:
Perbuatan pendidik, dapat berupa teladan,
perintah, pujian, teguran, ancaman hukuman. Benda-benda sebagai alat bantu,
seperti meja kursi belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis, buku, pena,
dll.
Penggunaan Alat Pendidikan
1) Teladan
Teladan adalah tindakan pendidik yang
disengaja untuk ditiru oleh anak didik, denga maksud melakukan pembiasaan pada
anak. Teladan merupakan alat pendidikan yang utama sebab terikat erat dalam
pergaulan dan berlangsung secara wajar. Dalam pelaksanaannya, pendidik perlu memberitahu
anak didik tentang tingkah laku mana yang harus ditiru dan mana yang tidak
dengan cara yang arif bijaksana, agar anak didik tidak merasa dipaksa. Contoh:
guru berpakaian bersih dan rapi, tidak merokok (terutama di depan anak didik),
tidak makan dan minum sambil berdiri, tidak tertawa terbahak-bahak di depan
anak didik, dll.
2) Perintah
Perintah adalah tindakan pendidik menyuruh
anak didik melakukan sesuatu (yang diharapkan) untuk mencapai tujuan tertentu.
Perintah ini lahir dari pemahaman pendidik terhadap keadaan anak didik dan niat
untuk membantu anak didik. Perintah merupakan kelanjutan dari teladan yang
tidak atau belum dituruti oleh anak didik. Contoh: Guru selalu membuang sampah
pada tempatnya. Suatu saat guru melihat salah satu siswa yang membuang plastik
bungkus makanan dari jendela kelas. Guru lalu menyuruh siswa tersebut untuk
mengambil kembali sampah tersebut dan membuangnya di tempat sampah. Usahakan
agar siswa menerima perintah secara positif, bukan karena dipaksa melainkan
karena alasan yang rasional.
3) Larangan
Larangan adalah tindakan pendidik menyuruh
anak didik untuk tidak melakukan atau menghindari tingkah laku (tertentu) demi
tercapainya tujuan pendidikan. Larangan ini merupakan reaksi atas tingkah laku
orang dewasa (yang tidak sepantasnya) ditiru oleh anak didik. Atau reaksi bagi
perilaku menyimpang anak didik dari kaidah agama dan norma/etika berperilaku
yang baik. Usahakan untuk memberikan alasan yang jelas ketika menyampaikan
larangan, sehingga segala sesuau dapat diterima dengan baik oleh anak didik.
Contoh: guru melarang siswa merokok.
Larangan ini diberikan karena tingkah laku tersebut tidak pantas ditiru dan
dapat merugikan anak.
4) Pujian/hadiah
Pujian/hadiah adalah tindakan pendidik yang
berfungsi memperkuat penguasaan tujuan pendidikan tertentu yang telah dicapai
oleh anak didik. Tindakan ini merupakan pengakuan setuju terhadap apa yang
telah dilakukan dan dicapai oleh anak didik. Pujian dan hadiah harus diberikan
pada saat yang tepat, yaitu segera setelah anak didik melakukan suatu
keberhasilan (jangan ditunda). Jangan diberikan sebagai janji, karena hal ini
akan dijadikan sebagai tujuan kegiatan.
5) Teguran
Teguran merupakan tindakan pendidik untuk
mengoreksi pencapaian tujuan pendidikan oleh anak didik. Biasanya teguran
digunakan apabila anak didik tidak atau kurang baik dalam bertingkah laku belum
mengikuti perintah/larangan. Teguran perlu disertai dengan usaha menyadarkan
anak didik akan ketidaktepatannya dalam bertingkah laku, sehingga anak didik
dapat menerima teguran secara sukarela.
6) Ancaman
Ancaman adalah tindakan pendidik mengoreksi
secara keras tingkah laku anak didik yang tidak sesuai harapan, dengan disertai
perjanjian jika terulang lagi akan diberi hukuman. Ancaman merupakan tindak
lanjut dari teguran. Pada umumnya, ancaman akan menimbulkan ketakutan. Anak
didik dapat menerima ancaman tersebut karena mengerti, atau karena takut. Anak
didik juga dapat menolak ancaman tersebut karena tidak mau dipaksa. Usahakan
agar ancaman ini digunakan pada saat yang tepat, misalnya untuk pelanggaran
berulang dan cukup berat. Sebaiknya jangan terlalu sering menggunakan alat
ini.
7) Hukuman
Hukuman adalah tindakan pendidik terhadap
anak didik karena melakukan kesalahan. Hukuman dimaksudkan untuk memberikan
efek jera, sehingga anak didik diharapkan tidak melakukan kesalahan lagi.
Hukuman merupakan alat pendidikan istimewa sebab membuat anak didik menderita.
Berat ringannya hukuman tergantung pada tujuan yang hendak dicapai dan keadaan
anak didik. Hukuman dapat berbentuk hukuman fisik, hukuman perasaan (diejek,
dipermalukan, dimaki, dll) atau pun hukuman intelektual. Sebaiknya jangan
menggunakan hukuman fisik atau hukuman perasaan, karena dapat mengganggu
hubungan kasih sayang antara pendidik dan anak didik. Biasakanlah untuk
menggunakan hukuman intelektual artinya anak didik diberi kegiatan tertentu
sebagai hukuman berdasarkan alasan bahwa kegiatan itu akan langsung membawanya
pada perbaikan hasil belajarnya.
4. Waktu pelaksanaan
Pada saat anak usia dini, hubungan anak
dengan pendidik belum disebut sebagai kegiatan pendidikan melainkan baru dalam
proses/taraf pembiasaan. Karena anak usia dini masih bersifat serba menerima,
mereka belum memahami apa itu perintah, aturan, norma dan lain sebagainya.
Kegiatan pembiasaan tersebut merupakan langkah awal yang dilakukan oleh
pendidik untuk mencapai kedewasaan seorang anak atau disebut juga dengan
pendidikan pendahuluan. Perbedaan pendidikan pendahuluan dengan pendidikan
sebenarnya adalah ketika terjadi hubungan wibawa antara pendidik dan anak
didik. Jadi pendidikan yang sebenarnya bukan merupakan kebiasaan melainkan
terjadi ketika hubungan wibawa itu ada, ketika anak telah mampu menerima
petunjuk dan perintah bukan hanya atas dasar ikut-ikutan atau meniru orang
lain.
5. Aspek tujuan
Tujuan pendidikan adalah mengantarkan anak
untuk mencapai kedewasaan. Tujuan pendidikan dibagi kedalam 2 tujuan, secara
mikro dan makro. Tujuan pendidikan secara mikro adalah untuk menjadikan anak
didik menjadi dewasa. Sedangkan secara makro yaitu menyiapkan manusia supaya
lebih bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan bangsanya. Anak dikatakan mencapai
kedewasaannya apabila dia sudah bisa dan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan
orang lain baik secara biologis, psikologis, ekonomi dan sosial.
6. Aspek lingkungan
Lingkungan tempat dimana kita bertempat
tinggal dan mendapatkan pendidikan merupakan lingkungan pendidikan. Lingkungan
disekitar anak dapat dibedakan menjadi 4 macam:
v Lingkungan alam fisik Lingkungan ini merupakan lingkungan berupa alam
disekitar kita seperti tumbuhan, hewan, udara, rumah dan lain-lain.
v Lingkungan budaya, berupa kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, adat
istiadat, bahasa, seni dan lain-lain.
v Lingkungan sosial, berupa hubungan interaksi antar individu yang hidup
bermasyarakat dan saling membutuhkan satu sama lain, tyermasuk didalamnya
tentang sikap, perilaku, norma antar setiap individu.
v Lingkungan spiritual, berupa lingkungan agama, keyakinan yang dianut
masyarakat yang ada disekitar kehidupan dia.
Manakala faktor-faktor tersebut, ada yang
tidak mendukung, maka disitulah sering terjadi kendala bagi diberlangsungkannya
proses pendidikan. Sebagai contoh bakat dan minat anak yang tidak ada pada
suatu bidang ajar, atau intelejensi anak yang rendah untuk materi ajar yang
memerlukan kecerdasan, atau kondisi fisik anak yang tidak mendukung untuk mata
ajar yang memerlukan kesempurnaan fisik, atau psikis anak yang labil, atau back
ground anak dari keluarga yang tidak mampu, broken home, berasal dari
masyarakat yang tidak peduli terhadap pendidikan, atau lingkungan sekolah yang
diselenggarakan berada jauh dibawah ukuran standard (baik manajemen,
pembelajaran dan fasilitasnya), maka semuanya itu menjadi pembatas bagi
dilangsungkannya pendidikan bagi anak tersebut.
B. Kemungkinan
dan Keharusan Pendidikan
Kemungkinan dan keharusan pendidikan adalah
hal-hal yang menyebabkan dimungkinkan dan diharuskannya pelaksanaan tugas-tugas
pendidikan. Anak manusia telah diakui oleh para ahli berbagai pakar disiplin
ilmu yang berbeda, memiliki potensi untuk kemungkinan dididik dan bahkan menjadikannya
harus dididik, umpamanya
ü Filsafat
Pakar Filsafat menilai manusia sebagai Homo
Sapien, makhluk yang memiliki akal, karenanya dia mungkin dan harus dididik
agar dapat berkembang kearah yang diinginkan.
ü Sosiologi
Pakar sosiologi menganggap manusia sebagai
Homo socius, yakni makhluk yang punya keinginan untuk hidup bersama. Dengan
kebersamaan ini dimungkinkannya terjadi proses transfer nilai-nilai,
pengetahuan dan keterampilan. Karenanya dengan potensi ini manusia dimungkinkan
untuk dididik. Dasar kehidupan sosial adalah karena adanya kebutuhan. Agar
kehidupan sosial itu berjalan dengan baik dan langgeng, maka diperlukan adanya
nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan dalam memenuhi kebutuhan itu,
sehingga memang manusia harus dididik.
ü Psikologi
Dalam pandangan psikologi, bahwa manusia
bukan hanya terdiri bentuk lahir dengan panca inderanya saja, tapi juga
memiliki aspek psikis dengan berbagai demensinya, seperti emosi, intelegensi,
konasi, imajinasi (daya khayal), dll. Yang semua itu memungkinkan dan
mengharuskan manusia untuk dididik, sehingga dapat berkembang menjadi manusia
yang sempurna bukan hanya aspek pisik tapi juga aspek psikisnya.
ü Antropologi
Dalam pandangan antropologi manusia adalah
makhluk yang berbudaya, karena manusia mempunyai akal dan rasa keingintahuan
dan punya kemampuan pisik untuk mengembangkannya. Potensi akal dan
keingintahuan serta kemampuan untuk mengembangkan ini adalah potensi yang
menyebabkan manusia mungkin dan harus didik, sehingga budaya manusia terus berkembang
kearah kesempurnaan.
ü Psikologi Agama
Dalam pandangan psikologi agama, manusia
adalah human religious, atau mahkluk yang memiliki potensi beragama. Potensi
ini dapat menjadi dasar bagi dimungkinkannya manusia dididik dan adalah merupakan
suatu keharussan untuk mendidiknya agar menjadi manusia yang beragama secara
benar.
ü Agama Islam
Sebagai sebuah agama yang universal, Islam
memandang manusia (anak) sebagai makhluk yang memiliki tiga unsur pokok, yaitu
tubuh, hayat dan jiwa. Tubuh bersifat materi, tidak kekal dan dapat hancur,
hayat yang berarti hidup, akan hancur bersama dengan datangnya kematian,
sedangkan jiwa bersifat kekal. Berbeda dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan,
“mereka mempunyai jiwa, tapi eksistensi jiwa di sini terikat dengan tubuh yang
bersifat materi, karenanya jika makhluk yang bersangkutan mati, jiwanya pun
ikut hancur” karena jiwa yang dimaksud di sini oleh sebahagian kalangan filofof
Islam adalah hayat yang berarti hidup. Manusia dipandang dalam islam sebagai
makhluk yang termulia diantara makhluk-makhluk Allah yang lain.
C. Aliran-Aliran
Dalam Pendidikan
Aliran-aliran yang biasa digunakan oleh
beberapa ahli pendidikan sebagai pendekatan dalam menilai faktor-faktor yang
mempengaruhi proses perubahan atau perkembangan manusia adalah:
1. Aliran Nativisme
Nativisme adalah suatu doktrin filosofis
yang berpengaruh besar dalam pemikiran psikologis. Tokoh utamanya Arthur
Schopenhaur (1788-1860) seorang filosuf berkebangsaan Jerman. Aliran ini
berpandangan bahwa yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah faktor
keturunan dan pembawaan atau sifat-sifat yang dibawanya sejak lahir. Pendidikan
dan pengalaman hidup lainnya tidak dapat mengubah sifat-sifat
keturunan/pembawaaan manusia. Usaha-usaha mendidik dalam pandangan aliran ini merupakan
usaha yang sia-sia. Karena pandangan pesimis ini, maka aliran ini dalam dunia
pendidikan disebut “Pesimesme pedagogis.”
2. Aliran Naturalisme
Aliran ini hampir sama dengan aliran
nativisme. Nature artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Aliran ini
berpendapat bahwa pada dasarnya semua anak (manusia) adalah baik. Meskipun
aliran ini percaya dengan kebaikan awal manusia, aliran ini tidak menafikan
peranan dan pengaruh lingkungan atau pendidikan. Pendidikkan yang baik akan
mengantarkan terciptanya manusia yang baik. Sebaliknya pendidikan dan
lingkungan yang jelek akan berakibat manusia menjadi jelek juga.
3. Aliran Empirisme
Aliran emperisme berlawanan dengan aliran
nativisme. Kalau dalam nativisme pembawaan atau keturunan menjadi faktor
penentu yang mempengaruhi perkembangan manusia, maka dalam emperisme yang
mempengaruhi perkembangan manusia adalah lingkungan dan pengalaman
pendidikannya.
Dalam hal ini, para penganut emperisme
menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak
punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa anak kelak tergantung
pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya. Nabi Muhammad SAW : bersabda :
“Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci, ibu dan
bapaknya yang akan menentukan apakah anak tersebut akan menjadi Yahudi,
Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari).
Sukar untuk tidak menyakini bahwa
lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses pembentukan
manusia. Lingkungan akan menentukan perilaku dan moral manusia. Seorang anak
yang tinggal dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak teratur, kemampuan
ekonomi di bawah rata-rata, lingkungan alam yang kumuh tanpa
fasilitas-fasilitas umum yang memadai seperti sarana ibadah, sarana olah raga
dan lain-lain, kondisi seperti itu akan menyuburkan pertumbuhan anak-anak nakal
dan kurang bermoral. Untuk anak yang hidup dalam lingkungan ini, maka tidak
cukup alasan untuk tidak menjadi brutal, apalagi jika orang tuanya kurang
peduli dengan perkembangan anaknya.
4. Aliran Konvergensi
Munculnya aliran konvergensi merupakan
respon terhadap pertentangan antara dua aliran ekstrim nativisme dan emperisme.
Konvergensi berusaha untuk mengkompromikan arti penting aspek keturunan pada
satu sisi dan aspek lingkungan di sisi yang lain sebagai faktor yang mempengaruhi
perkembangan manusia. Tokoh aliran ini, Louis William Sterm, seorang psikolog
Jerman (1871-1938). Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi manusia, aliran
ini tidak hanya berpegang pada lingkungan, pengalaman/pendidikan saja, tetapi
juga mempercayai faktor keturunan. Konvergensi memposisikan pembawaan dan
lingkungan dalam posisi yang sama-sama penting. Pembawaan tidak mempunyai arti
apa-apa terhadap perkembangan manusia jika tidak didukung oleh kondisi
lingkungan yang memadai. Demikian pula lingkungan dan pengalaman tanpa adanya
bakat pembawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia sesuai dengan harapan.
Bagi aliran konvengensi, keturunan dan lingkungan sama-sama mempunyai peran dan
andil dalam perkembangan manusia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah perlu karna anak manusia
dilahirkan tidak berdaya,
tidak dilengkapi dengan insting yang sempurna, anak manusia perlu
masa belajar yang panjang. Dasar biologisnya anak dilahirkan tak berdaya tetapi mempunyai potensi untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya yang mana anak bersifat lentur, anak mempunyai otak yang besar dan mempunyai pusat saraf yang berfungsi berhubungan dengan perbuatan berfikir.Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat .Jadi penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.
tidak dilengkapi dengan insting yang sempurna, anak manusia perlu
masa belajar yang panjang. Dasar biologisnya anak dilahirkan tak berdaya tetapi mempunyai potensi untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya yang mana anak bersifat lentur, anak mempunyai otak yang besar dan mempunyai pusat saraf yang berfungsi berhubungan dengan perbuatan berfikir.Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat .Jadi penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.
B. Kritik dan
Saran
Demikian
yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini , tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karna terbatasnya
Pengetahuan dan kurangnya rujukan dan referensi , penulis berharap kapada para
pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar