Selasa, 17 Maret 2015

Batasan Ilmu Pendidikan

MAKALAH
ILMU PENDIDIKAN
“BATAS-BATAS KEMUNGKINAN PENDIDIKAN”
Dosen Pengampu: Hindun, S.Ag. M.Pd.I

Di Susun
O
L
E
H
SAMSUL ARIF
NIM:T.PAI.I.2012.081
PADILATUL HUSNA
NIM:T.PAI.I.2012.042
SITI JAMILAH
NIM:T.PAI.I.2012.042

Lokal: VA
Jurusan:tarbiyah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH MAULANA QORI BANGKO
TAHUN AKADEMIK 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Batas-Batas Kemungkinan Pendidikan
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amiiiin!......


Bangko,09 Oktober 2014
Penulis

Samsul Arif
FadilatulHusna
Siti Jamilah







DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………….
!
DAFTAR ISI………………………………………………………….
!!
BAB I
PENDAHULUAN…………………………………………......
1

A.  Latar Belakang......................................................................
B.  Rumusan masalah.................................................................
2

3


BAB II
PEMBAHASAN………………………………………………
4


A.    Batasan Pendidikan..................................................

B.     Kemungkinan dan Keharusan Pendidikan...............

C.    Aliran-Aliran Dalam Pendidikan..............................


5


6


7S

BAB III
PENUTUP……………………………………………………..
9

A.Kesimpulan………………………………………………….

B.Kritik dan saran……………………………………………...
10

10
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….
11




BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Manusia hidup berbeda dengan hewan, karena manusia mampu secara sempurna menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, dan senantiasa berupaya menciptakan dunia kehidupan dan mengatasi realitasnya sendiri. Manusia dalam hidupnya mempunyai peran sejarah dan menciptakan sejarah baru, dengan kata lain “manusia di samping makhluk sejarah, juga dikuasai sejarah, ia tidak hanya berada di dalam dunianya sendiri, tetapi hidup bersama dan berdialog dengan kehidupan” ,karena memang manusia memahami wawasan kesejarahan sebagai wujud kemampuannya belajar dari pengalaman. Sementara hewan dengan hanya mengandalkan instink, maka hidupnya lebih banyak tergantung dengan alam, berorientasi pada kekinian, tidak punya kemampuan mereka masa depan. Seseorang disekolahkan oleh orang tuanya tentu agar menjadi seseorang yang cerdas dan berperilaku baik. Itu adalah tujuan diadakannya pendidikan di negara indonesia, yaitu Taqwa, Cerdas dan Terampil.




B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang diatas pemakalah mengambil rumusan masalah sebagai berikut.
*      Apa tujuan pendidikan dan apa saja batas-batas kemungkinan pendidikan?
*      Bgaimanakah keharusan pendidikan, dan apa saja aliran-aliran pendidikan?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Batasan Pendidikan
Dalam pelaksanaan sebuah pendidikan, ada hal-hal yang membatasi. Batas-batas Pendidikan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan atau ketidakberdayaan pendidikan dalam melakukan tugas-tugas pendidikan. Batas-batas yang mempengaruhi pendidikan tersebut adalah sbb:
1.      Pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab membimbing seorang anak untuk mencapai kedewasaanya. Yang dimaksud pendidik disini adalah orang tua dan guru. Keduanya memiliki peran yang sama penting dalam membantu proses pencapaian kedewasaan anak. Orang tua tentu saja memegang peran utama dalam proses ini, karena orang tua merupakan tempat pertama dan utama bagi seorang anak untuk bertinteraksi dengan pendidikan. Ketika anak berada di sekolah, orang tua memiliki keterbatasan dalam melakukan pendidikan terhadap anak. Untuk itulah guru melakukan peran pengganti sebagai orang tua yang akan melaksanakan pendidikan bagi anak, di sekolah.
2.      Aspek pribadi anak didik
Anak didik adalah sosok manusia/individu. Menurut Abu Ahmadi “Individu adalah orang yang tidak tergantung pada orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak dapat dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri”. Kondisi inilah yang membatasi sebuah pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu pendidikan, sangat tergantung pada seberapa jauh anak didik mampu menerima pendidikan yang diberikan. Anak didik harus diakui keberadaannya. Mereka tidak bisa begitu saja diperintah untuk mengikuti keinginan kita.  Kita harus dapat memasuki dunia mereka, sehingga kita dapat mengetahui apa yang mereka inginkan dan mereka sukai. Dengan demikian proses pendidikan akan bisa berlangsung dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
3.      Alat pendidikan
Alat pendidikan merupakan suatu perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Alat pendidikan digunakan untuk mendidik anak secara pedagogis. Misalnya jika seorang ibu membersihkan dan merapikan rumah setiap hari dalam rangka memberikan kenyamanan bagi keluarganya, maka ia telah menyediakan lingkungan pendidikan (keluarga). Jika ibu ini menggunakan kegiatan membersihkan rumah ini untuk menasehati anaknya agar menjaga kebersihan karena merupakan bagian dari keimanan, maka memberikan nasehat merupakan alat pendidikan, dan kondisi rumah yang bersih merupakan alat bantu pendidikan. Macam-macam alat pendidikan jika ditinjau dari wujudnya dapat berupa:
Perbuatan pendidik, dapat berupa teladan, perintah, pujian, teguran, ancaman hukuman. Benda-benda sebagai alat bantu, seperti meja kursi belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis, buku, pena, dll.
Penggunaan Alat Pendidikan
1)      Teladan
Teladan adalah tindakan pendidik yang disengaja untuk ditiru oleh anak didik, denga maksud melakukan pembiasaan pada anak. Teladan merupakan alat pendidikan yang utama sebab terikat erat dalam pergaulan dan berlangsung secara wajar. Dalam pelaksanaannya, pendidik perlu memberitahu anak didik tentang tingkah laku mana yang harus ditiru dan mana yang tidak dengan cara yang arif bijaksana, agar anak didik tidak merasa dipaksa. Contoh: guru berpakaian bersih dan rapi, tidak merokok (terutama di depan anak didik), tidak makan dan minum sambil berdiri, tidak tertawa terbahak-bahak di depan anak didik, dll.
2)      Perintah
Perintah adalah tindakan pendidik menyuruh anak didik melakukan sesuatu (yang diharapkan) untuk mencapai tujuan tertentu. Perintah ini lahir dari pemahaman pendidik terhadap keadaan anak didik dan niat untuk membantu anak didik. Perintah merupakan kelanjutan dari teladan yang tidak atau belum dituruti oleh anak didik. Contoh: Guru selalu membuang sampah pada tempatnya. Suatu saat guru melihat salah satu siswa yang membuang plastik bungkus makanan dari jendela kelas. Guru lalu menyuruh siswa tersebut untuk mengambil kembali sampah tersebut dan membuangnya di tempat sampah. Usahakan agar siswa menerima perintah secara positif, bukan karena dipaksa melainkan karena alasan yang rasional.
3)      Larangan
Larangan adalah tindakan pendidik menyuruh anak didik untuk tidak melakukan atau menghindari tingkah laku (tertentu) demi tercapainya tujuan pendidikan. Larangan ini merupakan reaksi atas tingkah laku orang dewasa (yang tidak sepantasnya) ditiru oleh anak didik. Atau reaksi bagi perilaku menyimpang anak didik dari kaidah agama dan norma/etika berperilaku yang baik. Usahakan untuk memberikan alasan yang jelas ketika menyampaikan larangan, sehingga segala sesuau dapat diterima dengan baik oleh anak didik.
Contoh: guru melarang siswa merokok. Larangan ini diberikan karena tingkah laku tersebut tidak pantas ditiru dan dapat merugikan anak.
4)      Pujian/hadiah
Pujian/hadiah adalah tindakan pendidik yang berfungsi memperkuat penguasaan tujuan pendidikan tertentu yang telah dicapai oleh anak didik. Tindakan ini merupakan pengakuan setuju terhadap apa yang telah dilakukan dan dicapai oleh anak didik. Pujian dan hadiah harus diberikan pada saat yang tepat, yaitu segera setelah anak didik melakukan suatu keberhasilan (jangan ditunda). Jangan diberikan sebagai janji, karena hal ini akan dijadikan sebagai tujuan kegiatan. 
5)      Teguran
Teguran merupakan tindakan pendidik untuk mengoreksi pencapaian tujuan pendidikan oleh anak didik. Biasanya teguran digunakan apabila anak didik tidak atau kurang baik dalam bertingkah laku belum mengikuti perintah/larangan. Teguran perlu disertai dengan usaha menyadarkan anak didik akan ketidaktepatannya dalam bertingkah laku, sehingga anak didik dapat menerima teguran secara sukarela.
6)      Ancaman
Ancaman adalah tindakan pendidik mengoreksi secara keras tingkah laku anak didik yang tidak sesuai harapan, dengan disertai perjanjian jika terulang lagi akan diberi hukuman. Ancaman merupakan tindak lanjut dari teguran. Pada umumnya, ancaman akan menimbulkan ketakutan. Anak didik dapat menerima ancaman tersebut karena mengerti, atau karena takut. Anak didik juga dapat menolak ancaman tersebut karena tidak mau dipaksa. Usahakan agar ancaman ini digunakan pada saat yang tepat, misalnya untuk pelanggaran berulang dan cukup berat. Sebaiknya jangan terlalu sering menggunakan alat ini. 
7)      Hukuman
Hukuman adalah tindakan pendidik terhadap anak didik karena melakukan kesalahan. Hukuman dimaksudkan untuk memberikan efek jera, sehingga anak didik diharapkan tidak melakukan kesalahan lagi. Hukuman merupakan alat pendidikan istimewa sebab membuat anak didik menderita. Berat ringannya hukuman tergantung pada tujuan yang hendak dicapai dan keadaan anak didik. Hukuman dapat berbentuk hukuman fisik, hukuman perasaan (diejek, dipermalukan, dimaki, dll) atau pun hukuman intelektual. Sebaiknya jangan menggunakan hukuman fisik atau hukuman perasaan, karena dapat mengganggu hubungan kasih sayang antara pendidik dan anak didik. Biasakanlah untuk menggunakan hukuman intelektual artinya anak didik diberi kegiatan tertentu sebagai hukuman berdasarkan alasan bahwa kegiatan itu akan langsung membawanya pada perbaikan hasil belajarnya.
4.      Waktu pelaksanaan
Pada saat anak usia dini, hubungan anak dengan pendidik belum disebut sebagai kegiatan pendidikan melainkan baru dalam proses/taraf pembiasaan. Karena anak usia dini masih bersifat serba menerima, mereka belum memahami apa itu perintah, aturan, norma dan lain sebagainya. Kegiatan pembiasaan tersebut merupakan langkah awal yang dilakukan oleh pendidik untuk mencapai kedewasaan seorang anak atau disebut juga dengan pendidikan pendahuluan. Perbedaan pendidikan pendahuluan dengan pendidikan sebenarnya adalah ketika terjadi hubungan wibawa antara pendidik dan anak didik. Jadi pendidikan yang sebenarnya bukan merupakan kebiasaan melainkan terjadi ketika hubungan wibawa itu ada, ketika anak telah mampu menerima petunjuk dan perintah bukan hanya atas dasar ikut-ikutan atau meniru orang lain.
5.      Aspek tujuan
Tujuan pendidikan adalah mengantarkan anak untuk mencapai kedewasaan. Tujuan pendidikan dibagi kedalam 2 tujuan, secara mikro dan makro. Tujuan pendidikan secara mikro adalah untuk menjadikan anak didik menjadi dewasa. Sedangkan secara makro yaitu menyiapkan manusia supaya lebih bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan bangsanya. Anak dikatakan mencapai kedewasaannya apabila dia sudah bisa dan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain baik secara biologis, psikologis, ekonomi dan sosial. 
6.      Aspek lingkungan
Lingkungan tempat dimana kita bertempat tinggal dan mendapatkan pendidikan merupakan lingkungan pendidikan. Lingkungan disekitar anak dapat dibedakan menjadi 4 macam:
v Lingkungan alam fisik Lingkungan ini merupakan lingkungan berupa alam disekitar kita seperti tumbuhan, hewan, udara, rumah dan lain-lain.
v Lingkungan budaya, berupa kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, adat istiadat, bahasa, seni dan lain-lain.
v Lingkungan sosial, berupa hubungan interaksi antar individu yang hidup bermasyarakat dan saling membutuhkan satu sama lain, tyermasuk didalamnya tentang sikap, perilaku, norma antar setiap individu.
v Lingkungan spiritual, berupa lingkungan agama, keyakinan yang dianut masyarakat yang ada disekitar kehidupan dia.
Manakala faktor-faktor tersebut, ada yang tidak mendukung, maka disitulah sering terjadi kendala bagi diberlangsungkannya proses pendidikan. Sebagai contoh bakat dan minat anak yang tidak ada pada suatu bidang ajar, atau intelejensi anak yang rendah untuk materi ajar yang memerlukan kecerdasan, atau kondisi fisik anak yang tidak mendukung untuk mata ajar yang memerlukan kesempurnaan fisik, atau psikis anak yang labil, atau back ground anak dari keluarga yang tidak mampu, broken home, berasal dari masyarakat yang tidak peduli terhadap pendidikan, atau lingkungan sekolah yang diselenggarakan berada jauh dibawah ukuran standard (baik manajemen, pembelajaran dan fasilitasnya), maka semuanya itu menjadi pembatas bagi dilangsungkannya pendidikan bagi anak tersebut.
B.     Kemungkinan dan Keharusan Pendidikan
Kemungkinan dan keharusan pendidikan adalah hal-hal yang menyebabkan dimungkinkan dan diharuskannya pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Anak manusia telah diakui oleh para ahli berbagai pakar disiplin ilmu yang berbeda, memiliki potensi untuk kemungkinan dididik dan bahkan menjadikannya harus dididik, umpamanya
ü  Filsafat
Pakar Filsafat menilai manusia sebagai Homo Sapien, makhluk yang memiliki akal, karenanya dia mungkin dan harus dididik agar dapat berkembang kearah yang diinginkan.
ü  Sosiologi
Pakar sosiologi menganggap manusia sebagai Homo socius, yakni makhluk yang punya keinginan untuk hidup bersama. Dengan kebersamaan ini dimungkinkannya terjadi proses transfer nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan. Karenanya dengan potensi ini manusia dimungkinkan untuk dididik. Dasar kehidupan sosial adalah karena adanya kebutuhan. Agar kehidupan sosial itu berjalan dengan baik dan langgeng, maka diperlukan adanya nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan dalam memenuhi kebutuhan itu, sehingga memang manusia harus dididik.
ü  Psikologi
Dalam pandangan psikologi, bahwa manusia bukan hanya terdiri bentuk lahir dengan panca inderanya saja, tapi juga memiliki aspek psikis dengan berbagai demensinya, seperti emosi, intelegensi, konasi, imajinasi (daya khayal), dll. Yang semua itu memungkinkan dan mengharuskan manusia untuk dididik, sehingga dapat berkembang menjadi manusia yang sempurna bukan hanya aspek pisik tapi juga aspek psikisnya.
ü  Antropologi
Dalam pandangan antropologi manusia adalah makhluk yang berbudaya, karena manusia mempunyai akal dan rasa keingintahuan dan punya kemampuan pisik untuk mengembangkannya. Potensi akal dan keingintahuan serta kemampuan untuk mengembangkan ini adalah potensi yang menyebabkan manusia mungkin dan harus didik, sehingga budaya manusia terus berkembang kearah kesempurnaan.
ü  Psikologi Agama
Dalam pandangan psikologi agama, manusia adalah human religious, atau mahkluk yang memiliki potensi beragama. Potensi ini dapat menjadi dasar bagi dimungkinkannya manusia dididik dan adalah merupakan suatu keharussan untuk mendidiknya agar menjadi manusia yang beragama secara benar.
ü  Agama Islam
Sebagai sebuah agama yang universal, Islam memandang manusia (anak) sebagai makhluk yang memiliki tiga unsur pokok, yaitu tubuh, hayat dan jiwa. Tubuh bersifat materi, tidak kekal dan dapat hancur, hayat yang berarti hidup, akan hancur bersama dengan datangnya kematian, sedangkan jiwa bersifat kekal. Berbeda dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan, “mereka mempunyai jiwa, tapi eksistensi jiwa di sini terikat dengan tubuh yang bersifat materi, karenanya jika makhluk yang bersangkutan mati, jiwanya pun ikut hancur” karena jiwa yang dimaksud di sini oleh sebahagian kalangan filofof Islam adalah hayat yang berarti hidup. Manusia dipandang dalam islam sebagai makhluk yang termulia diantara makhluk-makhluk Allah yang lain.
C.    Aliran-Aliran Dalam Pendidikan
Aliran-aliran yang biasa digunakan oleh beberapa ahli pendidikan sebagai pendekatan dalam menilai faktor-faktor yang mempengaruhi proses perubahan atau perkembangan manusia adalah:
1.      Aliran Nativisme
Nativisme adalah suatu doktrin filosofis yang berpengaruh besar dalam pemikiran psikologis. Tokoh utamanya Arthur Schopenhaur (1788-1860) seorang filosuf berkebangsaan Jerman. Aliran ini berpandangan bahwa yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah faktor keturunan dan pembawaan atau sifat-sifat yang dibawanya sejak lahir. Pendidikan dan pengalaman hidup lainnya tidak dapat mengubah sifat-sifat keturunan/pembawaaan manusia. Usaha-usaha mendidik dalam pandangan aliran ini merupakan usaha yang sia-sia. Karena pandangan pesimis ini, maka aliran ini dalam dunia pendidikan disebut “Pesimesme pedagogis.” 
2.      Aliran Naturalisme
Aliran ini hampir sama dengan aliran nativisme. Nature artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pada dasarnya semua anak (manusia) adalah baik. Meskipun aliran ini percaya dengan kebaikan awal manusia, aliran ini tidak menafikan peranan dan pengaruh lingkungan atau pendidikan. Pendidikkan yang baik akan mengantarkan terciptanya manusia yang baik. Sebaliknya pendidikan dan lingkungan yang jelek akan berakibat manusia menjadi jelek juga.
3.      Aliran Empirisme
Aliran emperisme berlawanan dengan aliran nativisme. Kalau dalam nativisme pembawaan atau keturunan menjadi faktor penentu yang mempengaruhi perkembangan manusia, maka dalam emperisme yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah lingkungan dan pengalaman pendidikannya.
Dalam hal ini, para penganut emperisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa anak kelak tergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya. Nabi Muhammad SAW : bersabda :


“Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci, ibu dan bapaknya yang akan menentukan apakah anak tersebut akan menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari). 
Sukar untuk tidak menyakini bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses pembentukan manusia. Lingkungan akan menentukan perilaku dan moral manusia. Seorang anak yang tinggal dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak teratur, kemampuan ekonomi di bawah rata-rata, lingkungan alam yang kumuh tanpa fasilitas-fasilitas umum yang memadai seperti sarana ibadah, sarana olah raga dan lain-lain, kondisi seperti itu akan menyuburkan pertumbuhan anak-anak nakal dan kurang bermoral. Untuk anak yang hidup dalam lingkungan ini, maka tidak cukup alasan untuk tidak menjadi brutal, apalagi jika orang tuanya kurang peduli dengan perkembangan anaknya.
4.      Aliran Konvergensi
Munculnya aliran konvergensi merupakan respon terhadap pertentangan antara dua aliran ekstrim nativisme dan emperisme. Konvergensi berusaha untuk mengkompromikan arti penting aspek keturunan pada satu sisi dan aspek lingkungan di sisi yang lain sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. Tokoh aliran ini, Louis William Sterm, seorang psikolog Jerman (1871-1938). Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi manusia, aliran ini tidak hanya berpegang pada lingkungan, pengalaman/pendidikan saja, tetapi juga mempercayai faktor keturunan. Konvergensi memposisikan pembawaan dan lingkungan dalam posisi yang sama-sama penting. Pembawaan tidak mempunyai arti apa-apa terhadap perkembangan manusia jika tidak didukung oleh kondisi lingkungan yang memadai. Demikian pula lingkungan dan pengalaman tanpa adanya bakat pembawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia sesuai dengan harapan. Bagi aliran konvengensi, keturunan dan lingkungan sama-sama mempunyai peran dan andil dalam perkembangan manusia.
























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendidikan adalah perlu karna anak manusia dilahirkan tidak berdaya,
tidak dilengkapi dengan insting yang sempurna, anak manusia perlu
masa belajar yang panjang. Dasar biologisnya anak dilahirkan tak berdaya tetapi mempunyai potensi untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya yang mana anak bersifat lentur, anak mempunyai otak yang besar dan mempunyai pusat saraf yang berfungsi berhubungan dengan perbuatan berfikir.Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat .Jadi penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.



B.     Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini , tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karna terbatasnya Pengetahuan dan kurangnya rujukan dan referensi , penulis berharap kapada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA

*      Hafifah Hana.3 Maret 2012.Tujuan Batas dan Kemungkinan Pendidikan.http://www.slideshare.net/HanaHafifah/tujuan-batas-dan-kemungkinan-pendidikan. Diakses pada tanggal 26 Maret 2014.
*      Munawar Maki.5 Juni 2010.Tujuan dan Batas-batas Kemungkinan Pendidikan.http://makimunawar.blogspot.com/2010/06/tujuan-dan-batas-batas-kemungkinan.html. Diakses pada tanggal 26 Maret 2014.
*      Endang Sri B.H.21 November 2013.Tujuan,Batasan dan Kemungkinan Pendidikan.http://irasaffaghira.blogspot.com/2013/11/tujuan-batasan-dan-kemungkinan.html. Diakses pada tanggal 26 Maret 2014.
*      http://elviana09.wordpress.com/2014/03/26/tujuankeharusan-dan-kemungkinan-pendidikan/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar