KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji
dan syukur kami panjatkan kehadirat alloh SWT. Karna dengan kerja sama antara
kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang kami ambil
rujukan dengan ilmu pendidikan islam (IPI) semoga nantinya makalah yang kami
papar kan dihadapan audien semua berguna untuk kita semua, khususnya buat
pemakalah sendiri.
Sholawat dan salam juga
tak henti-hentinya kita kirimkan buat junjungan alam ya’ni rosululloh SAW.
Karna yang kita tau beliau sebagai penyelamat bagi kita, sehingga kita dapat
melihat indahnya alam ini yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan, sholawat nya
yang berlapas:
اَلَّلهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْوَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ
DAFTAR ISI
DALAM JUDUL ………………………………………………..!
DAPTAR ISI………………………...…………………………..!!
AB.I. PENDAHULUAN…………………………….…………..1
a. Latar belakang…………………………………..………….....2
b. Rumusan masalah………………………………...………...…3
AB.II. PEMBAHASAN……………………………….…………4
a. Pengertian peserta didik………………….………….…...…...5
b. Kebutuhan peserta didik…………………………….….……..6
c. Dimensi- dimensi peserta didik…………………….…………7
d. Intelengensi peserta didik…………………………….….........8
e. Kpribadian peserta didik…………………………….…….…..9
f. Etika peserta didik………………………………….…….......10
AB.III. PENUTUP…………………………………….……..…11
Kesimpulan………………………………………….………..…12
Kritik dan saran.……………………………………….……..….13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam bukanlah sekadar agama yang membangun spiritual sesuatu
masyarakat, Islam tidak cukup dengan menjalankan solat lima waktu, puasa, zakat
dan Haji. Lebih dari pada itu Islam adalah cara hidup (way of life). Oleh
karena itu, makalah ini secara khusus membahas tentang pengajaran atau
pengenalan dalam pendidikan islam.
B.
Rumusan
masalah.
Dalam makalah yang kami sajikan ini, didalam terdpat beberapa sub
yang dapat kita kaji bersama.
ü Pengertian peserta didik
ü Kebutuhan peserta didik
ü Dimensi-dimensi peserta didik
ü Intelengensi peserta didik
ü Kepribadian peserta didik
ü Etika peserta didik
BABII
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN PESERTA DIDIK
Secara etimologi peserta didik
adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta
didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan
sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian
serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain
peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan
atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.
Sebagai individu yang tengah mengalami
fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan
bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat
dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu
banyak mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan
demikina dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mentah (raw
material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi suatu produk
pendidikan.
Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran
dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan
bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau
kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya. Dalam konteks ini seorang pendidik
harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut.
a.
ciri – ciri peserta
didik :
kelemahan dan ketak
berdayaannya
b.
kriteria peserta didik
:
Syamsul nizar
mendeskripsikan enam kriteria peserta didik, yaitu :
ü peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya
sendiri
ü peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan
ü peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik
disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
ü peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani
memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
ü peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat
dikembangkan dan berkembang secara dinamis.
Sehingga agar seorang pendidik mampu
membentuk peserta didik yang berkepribadian dan dapat mempertanggungjawabkan
sikapnya, maka seorang pendidik harus mampu memahami peserta didik beserta segala
Karakteristiknya. Allah SWT berfirman :
ôMs9$s% $yJßg1y÷nÎ) ÏMt/r'¯»t çnöÉfø«tGó$# ( cÎ) uöyz Ç`tB |Nöyfø«tGó$# Èqs)ø9$# ßûüÏBF{$# ÇËÏÈ
salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia
sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling
baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat
dipercaya” (Q.S. Al – Qashas 28:26).
B. KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PESERTA DIDIK
Pada sub bab sebelumnya tengah disinggung bahwasannya
untuk mendapatkan keberhasilan dalam proses pendidikan maka seorang pendidik
harus mampu memahami karakteristik seorang peserta didik itu sendiri. Kemudian
salah satu dari nya adalah kebutuhan peserta didik.
Kebutuhan peserta didik adalah sesuatu kebutuhan yang harus didapatkan
oleh peserta didik
untuk mendapat kedewasaan ilmu. Menurut buku yang ditulis oleh Ramayulis, ada
delapan kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi, yaitu :
1.
Kebutuhan Fisik
Fisik seorang didik selalu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Proses
pertumbuhan fisik ini terbagi menjadi tiga tahapan :
ü peserta didik pada usia 0 – 7 tahun, pada masa ini peserta didik masih
mengalami masa kanak-kanak
ü peserta didik pada usia 7 – 14 tahun, pada usia ini biasanya peserta didik
tengah mengalami masa sekolah yang didukung dengan peraihan pendidikan formal
ü peserta didik pada 14 – 21 tahun, pada masa ini peserta didik mulai
mengalami masa pubertas yang akan membawa kepada kedewasaan.
2.
Kebutuhan Sosial
Secara etimologi sosial adalah suatu lingkungan kehidupan. Pada hakekatnya
kata sosial selalu dikaitkan dengan lingkungan yang akan dilampaui oleh seorang
peserta didik dalam proses pendidikan.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kebutuhan sosial adalah digunakan
untuk memberi pengakuan pada seorang peserta didik yang pada hakekatnya adalah
seorang individu yang ingin diterima eksistensi atau keberadaannya dalam
lingkungan masyarakat sesuai dengan keberadaan dirinya itu sendiri.
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r&
4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ×Î7yz ÇÊÌÈ
hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (Q.S. Al-Hujarat:13)
3.
Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status
Kebutuhan mendapatkan status adalah
suatu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mendapatkan tempat dalam suatu
lingkungan. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik terutama pada masa
pubertas dengan tujuan untuk menumbuhkan sikap kemandirian, identitas serta
menumbuhkan rasa kebanggaan diri dalam lingkungan masyarakat.
4.
Kebutuhan Mandiri
Ketika seorang peserta didik telah melewati masa anak dan memasuki masa
keremajaan, maka seorang peserta perlu mendapat sikap pendidik yang memberikan
kebebasan kepada peserta didik untuk membentuk kepribadian berdasarkan
pengalaman. Hal ini disebabkan karena ketika peserta telah menjadi seorang
remaja, dia akan memiliki ambisi atau cita-cita yang mulai ditampakkan dan
terfikir oleh peserta didik, inilah yang akan menuntun peserta didik untuk
dapat memilih langkah yang dipilihnya.
5.
Kebutuhan Untuk Berprestasi
Untuk mendapatkan kebutuhan ini maka peserta didik harus mampu mendapatkan
kebutuhan mendapatkan status dan kebutuhan mandiri terlebih dahulu. Karena
kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kebutuhan berprestasi. Ketika
peserta didik telah mendapatkan kedua kebutuhan tersebut, maka secara langsung
peserta didik akan mampu mendapatkan rasa kepercayaan diri dan kemandirian,
kedua hal ini lah yang akan menuntutnun langkah peserta didik untuk mendapatkan
prestasi.
6.
Kebutuhan Ingin Disayangi dan Dicintai
Kebutuhan ini tergolong sangat penting bagi peserta didik, karena kebutuhan
ini sangatlah berpengaruh akan pembentukan mental dan prestasi dari seorang
peserta didik. Dalam sebuah penelitian membuktikan bahwa sikap kasih sayang
dari orang tua akan sangat memberikan mitivasi kepada pesertadidik.untuk mendapatkan
prestasi.
7. Kebutuhan Untuk Curhat
Ketika seorang peserta didik menghadapi masa pubertas, meka seorang peserta
didik tersebut tengah mulai mendapatkan problema-probelama keremajaan.
Kebutuhan untuk curhat biasanya ditujukan untuk mengurangi beban masalah yang
dia hadapi. Pada hakekatnya ketika seorang yang tengah menglami masa pubertas
membutuhkan seorang yang dapat diajak berbagi atau curhat.
8.
Kebutuhan Untuk Memiliki Filsafat Hidup
Pada hakekatnya seetiap manusia telah memiliki filsafat walaupun terkadang
ia tidak menyadarinya. Begitu juga dengan peserta didik ia memiliki ide,
keindahan, pemikiran, kehidupan, tuhan, rasa benar, salah, berani, takut.
Perasaan itulah yang dimaksud dengan filsafat hidup yang dimiliki manusia.
Pendidikan agana disamping memperhatikan kebutuhan-kebutuhan biologis dan
psikologis ataupun kebutuhan primer maupun skunder, maka penekanannya adalah
pemenuhan kebutuhan anak didik terhadap agama karena ajaran agama yang sudah
dihayati, diyakini, dan diamalkan oleh anak didik, akan dapat mewarnai seluruh
aspek kehidupannya.
C. DIMENSI – DIMENSI PESERTA DIDIK
Didalam Sub/bagian ini penulis hanya akan membahas 7 dimensi saja.
Adapun ketujuh dimensi tersebut ialah : dimensi fisik, dimensi akal, dimensi
keberagamaannya, dimensi akhlak, dimensi rohani, dimensi seni, dan dimensi
sosial.
1.
Dimensi Fisik (Jasmani)
Fisik manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur biotik dan unsur
abaiotik. Manusia sebagai peserta didik memiliki proses penciptaan yang sama
dengan makhluk lain seperti hewan. Namun yang membedakan adalah manusia lebih
sempurna dari hewan, hal ini dikarenakan manuasia memiliki nafsu yang
dibentengi oleh akal sedangkan hewan hanya memiliki nafsu dan insthink bukanya
akal.
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr&
5OÈqø)s? ÇÍÈ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya (QS. Attin :4).
2.
Dimensi Akal
Ramayulis dalam bukunya ia mengambil pendapat al – Ishfahami yang membagi
akal menjadi dua macam yaitu :
ü Aql Al-Mathhu’ : yaitu akal yang
merupakan pancaran dari Allah SWT sebagai fitrah Illahi.
ü Aql al-masmu :
yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh
manusia.
Akal memiliki fungsi sebagai berikut :
ü Akal adalah penahan nafsu.
ü Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi.
sesuatu baik yang nampak jelas maupun yang tidak jelas.
ü Akal pada diri manusia tidak dapat berdiri sendiri, ia membutuhkan bantuan
qolb (hati) agar dapat memahai sesuatu yang bersifat ghoib seperti halnya
ketuhanan, mu’jizat, wahyu dan mempelajarinya lebih dalam tentang tuhan
3.
Dimensi Keberagaman
Manusia sejak lahir kedunia telah menerima kodrat.
Dalam Ayat Al-qur’an ditegaskan :
øÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPy#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJÍhè öNèdypkôr&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr&
Mó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban
kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al – A’raf : 172).
4.
Dimensi Akhlak
Kata akhlak dalam pendidikan islam adalah seuatu yang
sangat diutamakan. Dalam islam akhlak sangat erat kaitannya dengan pendidikan
agama sehingga dikatakan bahwa akhlak tidak dapat lepas dari pendidikan agama.
Akhlak menurut pengertian islam adalah salah satu hasil dari iman dan
ibadat, karena iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali kalau dari situ
muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam islam bersumber pada iman dan taqwa
dan mempunyai tujuan langsung yaitu keridhoan dari Allah SWT.
5.
Dimensi Rohani (Kejiwaan)
Tidak jauh berbeda dengan dimensi akhlak, dimensi rohani dalah adalah
dimensi yang sangat penting dan harus ada pada peserta didik. Hal ini
dikarenakan rohani (kejiwaan) harus dapat mengendalikan keadaan manusia untuk
hidup bahagia, sehat, merasa aman dan tenteram.
6.
Dimensi Seni (Keindahan)
Dalam agama islam Allah telah menghadirkan dimensi seni ini didalam
Al-Qur’an. Kitab suci Al-qur’an memiliki kandungan nilai seni yang sangat mulia
nan indah. Hal ini karena A-lqur’an adalah ekspresi dari Allah SWT untuk
memberikan kebijakan dan pengetahuan kepada seluruh semesta Alam. Sehingga
kesastraan yang terdapat di dalam Al-Qur’an benar-benar menunjukkan kehadiran
Illahi didalam mu’jizat yang bersifat universal ini. Allah SWT berfirman :
öNä3s9ur $ygÏù îA$uHsd úüÏm tbqçtÌè? tûüÏnur tbqãmuô£n@ ÇÏÈ
Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya
kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan (QS.
An-nahl : 6)
Keindahan selalu berkaitan dengan adanya keimanan pada diri manusia.
Semakin tinggi iman yang dimiliki oleh manusia maka dia akan makin dapat
merasakan keindahan akan segala sesuatu yang di ciptakan oleh tuhannya.
7.
Dimensi Sosial
Dimensi sosial bagi manusia sangat erat kaitannya dengan sebuah golongan,
kelompok, maupun lingkungan masyarakat. Lingkungan terkecil dalam dimensi
sosial adalah keluarga, yang berperan sebagai sumber utama peserta didik untuk
membentuk kedewasaan. Didalam islam dimensi sosial dimaksudkan agar manusia
mengetahui bahwa tanggung jawab tidak hanya diperuntukkan pada perbuatan yang
bersifat pribadi namun perbuatan yang bersifat umum.
D. TINGKAT INTELEGENSI PESERTA DIDIK
Secara bahasa Integensi dapat diartikan dengan kecerdasan, pemahaman,
kecepatan, kesempurnaan sesuatu atau kemampuan. Sedangkan menurut Kamus Besar
Bahasa Indoneseia (KBBI) intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan
keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuan dan
kecerdasannya.
Berdasarkan pengertian diatas dalam pendidikan islam dikelompokkan
menjadi empat golongan, yaitu :
ü kecerdasan intelektual
ü kecerdasan emosional
ü kecerdasan spiritual
ü Kecerdasan Qalbiyah.
1.
Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan
pengambangan tingkat kemampuan dan kecerdasan otak, logika atau IQ. Ramayulis
dalam bukunya menyatakan, kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang
menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk
berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.
2.
Kecerdasan Emosional
Menurut Daniel Gomelen, kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk
memotovasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan
hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga akan
beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.
Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan
emosional, sebagai berikut :
ü Konsistensi (istiqamah)
ü Kerendahan hati (tawadhu’)
ü Berusaha dan berserah diri (tawakkal)
ü Ketulusan (ikhlas), totalitas (kaffah)
ü Keseimbangan (tawazun)
ü Integritas dan penyempurnaan (ihsan)
Didalam islam hal tersebut disebut dengan akhlaq al karimah. Akhlaq
Al Karimah ini mampu mengendalikan seseorang dari keinginan-keinginan, yang
bersifat negatif, dan sebaliknya mengarahkan seseorang untuk melakukan hal-hal
yang posistif.
Solovery menerangkan tentang ciri-ciri kecerdasan emosional sebagai berikut
:
ü respon yang cepat namun ceroboh
ü mendahulukan perasaan daripada fikiran
ü realitas simbolik yang seperti anak-anak
ü masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang
ü realitas yang ditentukan oleh keadaan.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat
disimpulkan bahwa kecerdasan emosional yang bekerja secara acak tanpa pemikiran
yang logis. Apabila tidak didampingi oleh pemikiran yang bersifat logis
(Kecerdasan Intelektual) dikhawatirkan malah akan mendorong peserta didik untuk
melakukan hal-hal yang negatif atau melakukan sesuatu yang monoton (tidak
berkembang).
Jalaludin Rahmat, dalam bukunya yang berjudul Kecerdasan Emosional
prespektif, mengemukakan bahwa untuk mendapatkan kecerdasan emosional yang
tinggi harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
Musyarathah, berjanji
pada diri sendiri untuk membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk
Muraqobah, memonitor
reaksi dan perilaku sehari-hari
Muhasabah, melakukan
perhitungan baik dan buruk yang pernah dilakukan
Mu’atabah dan mu’aqabah,
mengecam keburukan yang dikerjakan dan menghukum diri sendiri.
3.
Kecerdasan Spiritual
Secara etimologi spritual berarti yang berkehidupan atau sifat hidup.
Kecerdasan spiritula pada diri manusia berorientasi pada dua hal, yakni
berorientasi kepada hal yang bersifat duniawi dan agama.
Ketika seseorang mengorirntasikan kecerdasan spiritual kedalam sesuatuyang
bersifat duniawai, maka yang hadir dalam dirinya adalah bagaimana ia dapat
memaknai hidup dan mengelola nilai-nilai kehidupan. Bukan untuk menentukan atau
memilih keyakinan dan kepercayaan akan suatu agama.
Disisi keagamaan, Ari Ginanjar menyatakan bahwa inti dari kecerdasan
spiritual adalah pemahaman tentang kehadiran manusia itu sendiri yang muaranya
menjadi ma’rifat kepada Allah SWT. Ketika manusia mendapatkan ma’rifat
tersebut, maka manusia secara langsung akan dapat mengenali dirinya sendiri
sekaligus mengenal tuhannya. Dalam prespeksi islam hal ini merupakan tingkat
kecerdasan yang paling tinggi.
E. ETIKA PESERTA
DIDIK
Etika peserta didik adalah seuatu yang harus dipenuhi dalam proses
pendidikan. Dalam etika peserta didik, peserta didik memiliki kewajiban yang
harus dilaksanakan oleh peserta didik. Dalam buku yang ditulis oleh Rama yulis,
menurut Al-Ghozali ada sebelas kewajiban peserta didik, yaitu :
Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqoruh kepada
Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk
mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Ad-dzariat :56)
Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan
pribadi untuk kepentingan pendidikannya.
Menjaga pikiran dan pertantangan yang timbul dari berbagai aliran
Mempelajari ilmu – ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrowi maupun untuk
duniawi.
Belajar dengan bertahap dengan cara memulai pelajaran yang mudah menuju
pelajaran yang sukar.
Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian hari beralih pada ilmu yang
lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara
mendalam.
Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
Namun etika peserta didik tersebut
perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu,
yaitu :
Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa
sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan
dengan hati yang bersih.
Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi
jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan
sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau
pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa
cara yang baik.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tentang peserta didik dalam pendidikan islam dalam bab
sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :
Peserta didik adalah individu yang mengalami perkembangan dan perubahan,
sehingga ia harus mendapatkan bimbingan dan arahan untuk membentuk sikap moral
dan kepribadian.
Kebutuhan peserta didik yang berupa kebutuhan fisik, sosial, mendapatkan
status, mandiri, berprestasi, ingin disayangi dan dicintai, curhat, dan
mendapatkan filsafat hidup harus dipenuhi oleh pendidik untuk menunjang
perkembangan dan pembentukan sikap moral peserta didik sebagai insan kamil.
Peserta didik memiliki beberapa dimensi penting yang mempengaruhi akan
perkembangan peserta didik, dimensi ini harus diperhatikan secara baik oleh
pendidik dalam rangka mencetak peserta didik yang berakhlak mulia dan dapat
disebut sebagai insan kamil.
B.
KRITIK DAN SARARAN
Dari pembahasan yang kami paparkan mungkin ada
terdapat kesalahan dan kehilapan penulis, untuk itu penulis mohon ma’af yang
sebesar-besarnya, dan selanjutnya mungkin ada diantaraaudien sekalaian yang
menyangga atau kritikan yang sipatnya membangun dari pembahasan makalah ini
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu dkk. Ilmu Pendidikan Cetakan ke II. PT Rineka Cipta. Jakarta.
2006.
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia. Jakarta. 2006.
Supriono,Widodo. Filsafat Manusia dalam Islam. Pustaka Belajar. Yogyakarta,
1996.